MitraBentala.or.id- Workshop Kinerja Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan Kelompok Desa Tangguh Bencana (Destana) digelar di dua desa dampingan Mitra Bentala yaitu Desa Kelawi pada 9 Juli 2025 dan Desa Maja pada 12 Juli 2025. Kegiatan ini diikuti oleh anggota FPRB, Kelompok Destana, aparatur desa, serta dihadiri oleh perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Selatan.
Workshop ini menjadi ruang reflektif untuk meninjau kembali capaian, tantangan, dan peluang yang dihadapi kelompok selama satu tahun terakhir sejak pembentukannya. Selain mengevaluasi struktur dan kinerja, kegiatan ini juga menjadi ajang penyusunan rencana kerja ke depan yang lebih terarah dan partisipatif.
Sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko bencana berbasis komunitas, FPRB dan Destana di Desa Maja dan Kelawi telah melaksanakan berbagai inisiatif di tahun 2024, seperti pemetaan, pencegahan DBD, sosialisasi kebencanaan kepada warga, aksi bersih lingkungan, serta penyusunan dokumen kapasitas dan kerentanan. Kolaborasi dengan pemerintah desa dan mitra pendukung turut memperkuat langkah mereka.

Koordinator Mitra Bentala, Dewi Ira Rahmawati, menegaskan pentingnya arah kerja yang jelas:
“Program kerja akan menjadi acuan kelompok dalam bergerak. Kelompok yang mandiri ditandai dengan adanya perencanaan program kerja yang jelas dan dijalankan bersama.”
Dalam workshop ini, peserta juga dikenalkan dengan Penilaian Ketangguhan Desa (PKD) untuk mengukur kapasitas dan kesiapsiagaan desa dalam menghadapi bencana.
Perwakilan BPBD Lampung Selatan, Rommi Rohiyin, menekankan peran penting kelompok Destana:
“Destana adalah ujung tombak desa dalam penanggulangan bencana. Keterlibatan aktif seluruh anggota sangat penting. Selain itu, Destana juga diharapkan dapat mendorong pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di wilayahnya.”

Sementara itu, Ketua Destana Kelawi, Toni Saputra, menyoroti dampak positif program kerja tahun lalu:
“Program seperti aksi bersih lingkungan, penanaman sayur organik, dan pencegahan DBD sangat bermanfaat. Kegiatan ini perlu terus dilanjutkan dan diperkuat di tahun 2025.”
Senada dengan itu, Amirul, Ketua Destana Desa Maja, mendorong keterlibatan kelompok perempuan dalam kegiatan berbasis lingkungan:
“Penanaman sayur organik bisa lebih berdampak jika melibatkan ibu rumah tangga yang ada di desa. Peran mereka penting dalam menjaga kesinambungan kegiatan dan hasilnya.”
Workshop ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi antar anggota, meningkatkan kapasitas kelompok, serta membangun komitmen bersama untuk menjadikan FPRB dan Destana sebagai garda terdepan pengurangan risiko bencana berbasis lokal dan partisipatif.



