MitraBentala.or.id- Forum Komunikasi Nelayan Tradisional Provinsi Lampung (Forkom Nettral) menggelar audiensi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lampung Tengah, Pada Senin 20 Oktober 2025. Kegiatan ini menjadi langkah strategis bagi nelayan untuk menyampaikan aspirasi dan memperkuat sinergi dengan para pengambil kebijakan daerah dalam upaya mewujudkan pengelolaan perikanan rajungan yang berkelanjutan di Pesisir Timur Lampung.
Audiensi yang dilaksanakan di Kantor DPRD Lampung Tengah ini dihadiri oleh 20 peserta yang terdiri dari perwakilan nelayan Lampung Tengah dengan beragam kelompok, diantaranya Kelompok Usaha Bersama (KUB), Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar), pengurus Forkom Nettral Kabupaten Lampung Tengah, serta pengurus Forkom Nettral Provinsi Lampung dan tim pendamping dari Mitra Bentala.

Forkom Nettral merupakan wadah komunikasi yang menaungi nelayan tradisional di wilayah pesisir timur Lampung salah satunya Kabupaten Lampung Tengah. Forum ini dibentuk untuk memperjuangkan aspirasi nelayan, meningkatkan kapasitas pengelolaan sumber daya laut, dan menjaga keberlanjutan ekosistem perikanan, khususnya rajungan.
Ketua Forkom Nettral Kabupten Lampung Tengah, Edy Alamsyah, menegaskan bahwa kegiatan audiensi ini penting untuk membuka ruang komunikasi dua arah antara nelayan dan pemerintah daerah, terutama dalam hal adanya kebijakan dari AS terkait larangan ekspor rajungan yang ditangkap dengan alat tangkap jaring insang atau Gillnet. “Saat ini nelayan rajungan menghadapi adanya isu larangan ekspor rajungan ke AS terutama rajungan yang dijaring dengan menggunakan jaring insang atau Gillnet. Sedangkan mayoritas nelayan rajungan yang kita dampingi saat ini menangkap menggunakan jaring dan jika kebijakan ini berlaku tentu saja dapat berdampak pada pendapatan ekonomi keluarga nelayan rajungan.”

Dalam pertemuan ini, perwakilan dari Forkom Nettral dan nelayan Kabupaten Lampung Tengah, juga menyampaikan sejumlah isu yang dihadapi nelayan di lapangan. Di antaranya terkait keterbatasan sarana penangkapan ramah lingkungan, fluktuasi harga hasil tangkapan, hingga minimnya akses nelayan terhadap dukungan kebijakan dan fasilitas pasca panen.
Perwakilan Poklahsar Lampung Tengah, Fitri, mengungkapkan bahwa kelompok ibu-ibu ini berharap ada kebijakan yang dapat mendorong dan membantu meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga, baik dalam hal perizinan, distribusi hasil produksi, maupun peningkatan kapasitas pengolahan. “Poklasahsar ini adalah kelompok ibu-ibu yang mengelola produk perikanan dan limbah-limbah rajungan. Produk olahannya seperti pempek, kerupuk lemi rajungan, dan tekwan. Kendala yang kami hadapi terutama soal pemasaran. Harapan kedepannya bagaimana produk-produk olahan kami dapat dipasarkan secara lebih luas agar kelompok kami bisa semakin berkembang lagi.”

Dari pihak DPRD Kabupaten Lampung Tengah, audiensi ini disambut positif. DPRD menilai kegiatan tersebut sebagai langkah konstruktif dalam membangun jembatan komunikasi antara masyarakat pesisir dan pemerintah. Perwakilan DPRD Lampung Tengah, Agus Supriyono Sekretaris Komisi II DPRD Lampung Tengah, menyampaikan apresiasi terhadap langkah Forkom Nettral yang telah berinisiatif mengedepankan dialog dan kolaborasi lintas sektor untuk menjaga kelestarian laut sekaligus meningkatkan kesejahteraan nelayan. “Harapan kami melalui Forkom Nettral ini bisa mensejahterakan minimal pengurus dan juga anggota. Semua aspirasi teman-teman nelayan kami terima dan kami sangat terbuka. Nantinya akan kami tindak lanjuti kepada Kementerian terutama terkait dengan kebijakan pelarangan ekspor rajungan ke AS yang ditangkap dengan menggunakan jaring Gillnet.”
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian upaya Forkom Nettral membangun komitmen bersama antar pemangku kepentingan di wilayah pesisir timur. Dengan semangat kebersamaan dan komunikasi terbuka, Forkom Nettral berharap hasil dari audiensi ini dapat menjadi langkah awal menuju kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan nelayan tradisional sekaligus mendukung kelestarian sumber daya perikanan yang ada di Pesisir Timur Lampung.

