MitraBentala.or.id— bersama Environmental Defense Fund (EDF) dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Identifikasi Nelayan Pengguna Minitrawl pada Rabu (10/12) di Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kolaboratif dalam mendorong pengelolaan perikanan yang berkelanjutan melalui transisi alat tangkap ramah lingkungan.

FGD ini diikuti oleh 40 nelayan pengguna minitrawl yang berasal dari Desa Margasari dan Desa Muara Gading Mas. Kegiatan dilaksanakan secara partisipatif untuk menggali informasi mendalam terkait praktik penangkapan ikan, latar belakang penggunaan minitrawl, kondisi sosial ekonomi nelayan, wilayah tangkap, serta berbagai tantangan yang dihadapi di lapangan.

Melalui forum diskusi ini, Mitra Bentala dan para mitra memperoleh gambaran awal mengenai dinamika penggunaan minitrawl di wilayah pesisir Lampung Timur. Diskusi juga menjadi ruang dialog antara nelayan dan pemangku kepentingan terkait kebijakan perikanan, perizinan kapal, serta pentingnya pendataan nelayan sebagai dasar perencanaan program dan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Hasil diskusi menunjukkan adanya keterbukaan dari nelayan untuk beralih ke alat tangkap alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti bubu naga, bubu keong, dan bubu gurita. Namun, nelayan menekankan perlunya dukungan yang terencana, pendampingan berkelanjutan, serta kejelasan mekanisme transisi agar perubahan alat tangkap tidak berdampak pada keberlanjutan mata pencaharian mereka.

Kegiatan ini menghadirkan Staff Bidang Perikanan Tangkap DKP Provinsi Lampung, Arya Bima Akbar, sebagai narasumber, dan dimoderatori oleh Guswarman dari Environmental Defense Fund (EDF). Ke depan, kegiatan ini akan dilanjutkan dengan wawancara mendalam dan lokakarya pemaparan hasil identifikasi sebagai dasar perancangan intervensi program transisi alat tangkap ramah lingkungan di Lampung Timur.