MitraBentala.or.id- melalui Program Strengthening Partnerships for Community Resilience in Indonesia and Timor Leste (SPRINT) menginisiasi pembentukan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan pengembangan pertanian sayuran organik berbasis perempuan di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan. Program ini mulai dilaksanakan pada Januari 2025 dan menjadi salah satu upaya strategis dalam memperkuat ketahanan pangan lokal, meningkatkan pendapatan keluarga, serta mendorong pemanfaatan lahan secara berkelanjutan.

Desa Kelawi memiliki potensi sumber daya lahan yang cukup besar, dengan luas lahan pertanian sekitar 954 hektare. Jumlah penduduk desa tercatat sebanyak 4.395 jiwa, terdiri dari 2.225 laki-laki dan 2.170 perempuan, yang tersebar di sembilan dusun. Namun demikian, pemanfaatan lahan untuk produksi pangan lokal masih belum optimal. Sebagian besar dari 1.153 kepala keluarga masih bergantung pada pasokan sayuran dari pasar luar desa, sementara banyak lahan pekarangan dan lahan kosong belum dimanfaatkan secara produktif. Di sisi lain, aktivitas ekonomi desa masih didominasi oleh laki-laki, sehingga peran perempuan khususnya ibu rumah tangga dalam kegiatan ekonomi produktif relatif terbatas.

Berangkat dari kondisi tersebut, Mitra Bentala mendorong pengembangan pertanian sayuran organik yang dikelola dan dipimpin oleh perempuan melalui pembentukan Kelompok Wanita Tani. Program ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan melibatkan Dinas Pertanian, Pemerintah Desa Kelawi, serta Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai bagian dari pendekatan pembangunan desa yang terintegrasi dan berkelanjutan. Sinergi lintas pihak ini tidak hanya memperkuat aspek teknis pertanian, tetapi juga memastikan keberlanjutan program serta keterkaitannya dengan upaya pengurangan risiko bencana dan penguatan kapasitas masyarakat.

Pengembangan pertanian sayuran organik diawali di Dusun Kayutabu dengan membentuk satu KWT yang beranggotakan sekitar 10–15 perempuan. Melalui pendampingan intensif, kelompok ini mulai mengelola lahan pekarangan yang tidak produktif untuk budidaya sayuran organik. Hasil yang dicapai menunjukkan dampak yang cukup signifikan, baik dari sisi peningkatan ketersediaan pangan keluarga, tambahan pendapatan rumah tangga, maupun meningkatnya kepercayaan diri dan peran perempuan dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga dan kelompok.

Keberhasilan KWT di Dusun Kayutabu kemudian mendorong tumbuhnya inisiatif serupa di dusun lain. Sepanjang tahun 2025, telah terbentuk dan mulai dikembangkan empat KWT di beberapa dusun, yaitu Dusun Kayutabu, Dusun Way Bakak, Dusun Kubang Gajah, dan Dusun Minang Rua. Masing-masing kelompok menunjukkan perkembangan yang positif serta partisipasi aktif anggota dalam kegiatan pertanian dan pengelolaan kelompok.

Pada tahun 2026, Mitra Bentala bersama Pemerintah Desa, Destana, Dinas Pertanian, dan perwakilan masyarakat desa berkomitmen untuk memperluas pengembangan Kelompok Wanita Tani ke seluruh sembilan dusun di Desa Kelawi. Kesepakatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa manfaat program dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi, ketahanan pangan, dan ketangguhan desa secara keseluruhan.

Melalui pengembangan pertanian sayuran organik berbasis Kelompok Wanita Tani, Mitra Bentala tidak hanya mendorong peningkatan kesejahteraan keluarga dan kemandirian ekonomi perempuan, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan desa yang inklusif, berkelanjutan, dan tangguh terhadap berbagai risiko sosial, ekonomi, dan bencana.