MitraBentala.or.id – Di tengah derasnya arus informasi digital, setiap orang kini memiliki kesempatan untuk menjadi penyampai cerita. Tidak hanya jurnalis profesional, masyarakat biasa pun dapat berperan aktif dalam mendokumentasikan dan membagikan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya melalui jurnalisme warga atau citizen journalism.

Jurnalisme warga merupakan proses partisipasi aktif masyarakat dalam mengumpulkan, melaporkan, menganalisis, dan menyebarkan informasi kepada publik. Dengan memanfaatkan media digital dan media sosial, masyarakat dapat membagikan fakta, pengalaman, maupun cerita yang mereka temui sehari-hari, meskipun tanpa latar belakang pendidikan jurnalistik.

Berangkat dari pentingnya peran tersebut, pelatihan Jurnalisme Warga diselenggarakan pada 21–22 Mei 2026 di Desa Cabang, Kabupaten Lampung Tengah. Kegiatan yang difasilitasi oleh EDF Indonesia ini melibatkan anggota Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) dan Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (Poklahsar), Kelompok Usaha Bersama (KUB) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dari Desa Cabang serta Pokmaswas, Poklahsar, dan KUB dari Desa Sungai Burung.

Selama dua hari, peserta diajak untuk melihat kehidupan sehari-hari mereka dari sudut pandang yang berbeda. Aktivitas yang selama ini dianggap biasa—mulai dari nelayan yang berangkat melaut, proses pengolahan hasil perikanan, hingga kegiatan pengawasan sumber daya pesisir, ternyata menyimpan banyak cerita yang layak diketahui publik.

Salah satu narasumber yang hadir dalam pelatihan ini adalah penulis dan travel storyteller, Yopie Franz. Dengan pendekatan yang interaktif, peserta diajak berdiskusi mengenai berbagai cerita yang hidup di sekitar mereka serta bagaimana mengubah pengalaman sehari-hari menjadi sebuah konten yang menarik dan informatif.

Tidak hanya belajar teori, peserta juga langsung mempraktikkan konsep jurnalisme warga di lapangan. Mereka diminta mencari aktivitas menarik yang berlangsung di sekitar desa untuk kemudian didokumentasikan dan diolah menjadi bahan publikasi. Dari hasil pengamatan tersebut, peserta berlatih menyusun narasi dan caption dengan memperhatikan unsur dasar jurnalistik, yaitu 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, dan How), sehingga informasi yang disampaikan dapat dipahami dengan jelas oleh pembaca.

Antusiasme peserta semakin terlihat ketika sesi praktik berlangsung. Banyak peserta mulai menyadari bahwa kegiatan yang selama ini mereka lakukan menyimpan nilai cerita yang kuat, terutama terkait kehidupan masyarakat pesisir, pengelolaan sumber daya perikanan, serta upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.

Selain kemampuan menulis, peserta juga mendapatkan pelatihan dasar fotografi yang disampaikan oleh salah satu staf Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung, Lamda Kusuma Perdana. Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada teknik-teknik dasar pengambilan gambar, mulai dari komposisi, pencahayaan, hingga cara menangkap momen yang mampu memperkuat pesan sebuah cerita. Kemampuan fotografi dinilai penting karena visual yang menarik dapat meningkatkan daya tarik publikasi dan membantu menyampaikan pesan secara lebih efektif.

Peningkatan kapasitas dalam jurnalisme warga menjadi langkah penting bagi masyarakat pesisir untuk memperluas ruang partisipasi mereka. Melalui kemampuan mendokumentasikan dan menyebarluaskan informasi secara mandiri, masyarakat dapat menyuarakan berbagai tantangan yang mereka hadapi sekaligus memperkenalkan potensi yang dimiliki wilayahnya.

Cerita-cerita mengenai praktik perikanan berkelanjutan, penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, upaya pengawasan sumber daya pesisir, hingga potensi wisata dan produk lokal dapat menjangkau audiens yang lebih luas. Bagi kelompok Poklahsar, kemampuan ini juga membuka peluang untuk memperkenalkan produk hasil olahan perikanan kepada pasar yang lebih besar, memperluas jaringan pemasaran, serta membangun koneksi dengan berbagai pihak yang berpotensi mendukung pengembangan usaha mereka.

Sebagai tindak lanjut dari pelatihan, peserta kelompok didampingi untuk membuat akun media sosial yang nantinya akan digunakan sebagai sarana publikasi kegiatan kelompok nelayan dan masyarakat pesisir. Platform tersebut diharapkan menjadi ruang bersama untuk berbagi informasi, mendokumentasikan praktik-praktik baik, serta memperkuat suara masyarakat dalam berbagai isu yang berkaitan dengan pesisir dan perikanan.

Melalui jurnalisme warga, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi produsen pengetahuan yang mampu menceritakan realitas dari sudut pandang mereka sendiri. Ketika masyarakat memiliki ruang untuk bersuara, maka cerita tentang kehidupan pesisir, tantangan yang dihadapi, serta harapan akan masa depan yang lebih berkelanjutan dapat menjangkau lebih banyak orang dan menginspirasi perubahan yang lebih luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *