MitraBentala.or.id – Mitra Bentala memfasilitasi kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Rencana Perbaikan Sumber Air Desa Maja yang berlangsung di Desa Maja, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan pada Senin, 29 Juni 2026.

FGD dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, antara lain Pemerintah Desa Maja, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), pengurus dan pengguna Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), tokoh masyarakat, serta perwakilan kelompok masyarakat lainnya. Kegiatan ini menjadi wadah untuk mengidentifikasi kondisi sumber air yang ada saat ini, mengkaji kebutuhan perbaikan sarana dan prasarana, serta menyusun rekomendasi dan rencana tindak lanjut yang dapat dilaksanakan secara partisipatif dan berkelanjutan.

Dalam pemaparan yang disampaikan selama diskusi, dijelaskan bahwa sumber air utama masyarakat Dusun 2 Desa Maja berasal dari mata air yang berada di aliran sungai RT 4 Desa Maja pada kawasan perbukitan dengan ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut. Mata air tersebut telah dimanfaatkan masyarakat selama bertahun-tahun sebagai sumber air bersih utama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai sarana pendukung penyediaan air bersih mengalami kerusakan. Beberapa permasalahan yang ditemukan antara lain mesin sumur bor yang tidak lagi berfungsi, bak penampung air yang mengalami kebocoran dan keretakan, jaringan pipa distribusi yang rusak, tanggul penahan sumber mata air yang mulai keropos, serta menurunnya debit air secara signifikan. Kondisi tersebut berdampak pada terganggunya distribusi air bersih kepada masyarakat, terutama saat musim kemarau panjang.

Berdasarkan data Desa Maja tahun 2026, Dusun 2 memiliki jumlah penduduk sebanyak 485 jiwa yang tersebar dalam 148 kepala keluarga. Di dalamnya terdapat kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas yang sangat bergantung pada ketersediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, perbaikan sistem sumber air menjadi kebutuhan mendesak yang tidak hanya berkaitan dengan kesehatan dan sanitasi, tetapi juga mendukung ketahanan ekonomi masyarakat serta kesiapsiagaan menghadapi bencana kekeringan.

Selain menjadi kebutuhan dasar masyarakat, pengelolaan sumber air yang baik juga memiliki keterkaitan erat dengan upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Ketersediaan air bersih yang memadai dapat membantu masyarakat menghadapi ancaman kekeringan, kemarau panjang, kebakaran hutan dan lahan, serta dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Lampung Selatan, Bapak Erwan Patriansyah, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif yang dilakukan melalui kegiatan FGD tersebut.

“Menurut saya kegiatan hari ini sangat luar biasa dalam mendorong upaya perbaikan sarana dan prasarana air di Desa Maja. Harapan saya, masyarakat dan aparatur desa yang diinisiasi oleh Mitra Bentala dapat terus bekerja sama sehingga pengelolaan sumber air ke depan menjadi lebih baik dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ibu Neni, anggota FPRB Desa Maja sekaligus pengguna layanan Pamsimas, berharap hasil diskusi dapat segera ditindaklanjuti dengan langkah-langkah nyata.

“Harapan saya setelah kegiatan FGD ini, sistem sumber air dapat segera dibenahi, mulai dari penguatan kepengurusan hingga perbaikan alat-alat penunjang untuk pendistribusian air kepada masyarakat, khususnya di lingkungan kami yang sangat membutuhkan akses air bersih,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan oleh Bapak Perdi, Ketua Pamsimas Desa Maja. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sumber air tidak hanya bergantung pada perbaikan infrastruktur, tetapi juga pada soliditas kelembagaan pengelola.

“Dari kesimpulan kegiatan FGD ini, harapan saya sebagai ketua adalah agar kepengurusan Pamsimas semakin solid dan kompak. Dengan kerja sama yang baik, saya optimis pengelolaan sumber air ke depan dapat berjalan lebih lancar dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” katanya.

Melalui diskusi yang berlangsung aktif, para peserta berhasil mengidentifikasi berbagai kebutuhan prioritas perbaikan, mulai dari rehabilitasi bak penampung, perbaikan jaringan distribusi pipa, penguatan perlindungan sumber mata air, hingga penguatan kelembagaan pengelola air bersih. Berbagai masukan tersebut akan menjadi dasar penyusunan rencana tindak lanjut yang melibatkan pemerintah desa, masyarakat, serta berbagai pihak terkait.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *