MitraBentala.or.id- Menjelang Hari Pencegahan Tenggelam Sedunia (World Drowning Prevention Day) yang diperingati setiap 25 Juli, perhatian terhadap keselamatan di perairan kembali menjadi pengingat bahwa tenggelam merupakan salah satu penyebab kematian yang paling dapat dicegah. Namun, pencegahan tidak hanya bergantung pada tersedianya fasilitas penyelamatan, melainkan juga pada pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan masyarakat yang berada di garis terdepan ketika keadaan darurat terjadi.
Bagi masyarakat pesisir seperti Desa Maja, keselamatan di air bukan sekadar isu musiman. Berhadapan langsung dengan laut setiap hari, masyarakat hidup berdampingan dengan berbagai risiko, mulai dari gelombang tinggi, banjir rob, hingga potensi tsunami. Di sisi lain, Desa Maja juga berkembang sebagai kawasan wisata pantai yang semakin ramai dikunjungi. Kondisi ini menjadikan upaya membangun kapasitas masyarakat sebagai langkah penting untuk melindungi warga maupun wisatawan dari risiko tenggelam.

Berangkat dari semangat tersebut, Mitra Bentala menyelenggarakan Pelatihan Pencegahan Orang Tenggelam dan Simulasi Penyelamatan di Air pada Senin (13/7/2026) di Pantai Desa Maja, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mencegah kejadian tenggelam sekaligus memberikan penanganan awal yang aman dan tepat ketika keadaan darurat terjadi di perairan.
Pelatihan melibatkan berbagai unsur masyarakat yang memiliki peran strategis dalam penanganan kedaruratan di tingkat desa, mulai dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Maja Bahari, Desa Tangguh Bencana (Destana) Desa Maja, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa Maja, aparatur desa, hingga mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Lampung (Unila). Kegiatan menghadirkan narasumber dari Basarnas dan BPBD Kabupaten Lampung Selatan yang berbagi pengalaman sekaligus memandu praktik penyelamatan di lapangan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa ratusan ribu orang meninggal akibat tenggelam setiap tahunnya. Sebagian besar kejadian tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui edukasi, peningkatan kesadaran risiko, serta kemampuan memberikan pertolongan pertama yang benar. Karena itulah Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan tanggal 25 Juli sebagai World Drowning Prevention Day, sebuah momentum global untuk mendorong setiap negara memperkuat upaya pencegahan tenggelam melalui kolaborasi lintas sektor.
Pelatihan diawali dengan sesi pembelajaran mengenai berbagai aspek keselamatan di air. Peserta diperkenalkan pada faktor-faktor penyebab tenggelam, prinsip keselamatan diri sebelum memberikan pertolongan, prosedur meminta bantuan saat kondisi darurat, hingga teknik penyelamatan menggunakan metode Reach, Throw, Row, Don’t Go. Selain itu, peserta juga mempelajari penggunaan alat bantu penyelamatan sederhana, teknik evakuasi korban dari air ke daratan, serta pemberian pertolongan pertama dan praktik Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR).

Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan melalui simulasi penyelamatan di kawasan Pantai Desa Maja. Peserta berlatih mengidentifikasi situasi darurat, menentukan tindakan yang paling aman, mengevakuasi korban menggunakan peralatan yang tersedia, hingga memberikan pertolongan pertama sebelum korban memperoleh penanganan medis lanjutan. Simulasi juga menekankan pentingnya koordinasi antartim agar proses penyelamatan dapat dilakukan secara cepat, aman, dan efektif. Kegiatan dilanjutkan dengan praktik water rescue, sehingga peserta dapat langsung mengaplikasikan seluruh materi yang telah dipelajari.
Perwakilan BPBD Kabupaten Lampung Selatan, Nahwan, mengapresiasi antusiasme peserta selama mengikuti pelatihan. “Kegiatan hari ini sangat luar biasa, terutama semangat dari anggota Destana yang sangat antusias mengikuti pelatihan pencegahan orang tenggelam. Ke depannya Destana harus semakin memahami teknik penyelamatan sehingga mampu bertindak cepat, tepat, dan sigap apabila terjadi keadaan darurat maupun bencana.”

Ketua Destana Desa Maja, Amirul, menyampaikan bahwa pelatihan tersebut menjadi bekal penting bagi para relawan desa yang berada di garda terdepan saat terjadi kedaruratan di wilayah pesisir. “Hari ini kami bersama Pokdarwis Desa Maja, BPBD Lampung Selatan, dan mahasiswa KKN telah mengikuti pelatihan dengan lancar. Kegiatan ini menambah kapasitas kami dalam memahami langkah-langkah yang harus dilakukan apabila terdapat korban tenggelam maupun saat terjadi bencana.”
Senada dengan itu, Ketua Pokdarwis Desa Maja, Ainul Fajri, menilai pelatihan ini sangat relevan dengan karakter Desa Maja sebagai kawasan wisata pantai. “Pelatihan ini sangat bermanfaat karena menambah pengetahuan dan kapasitas kami dalam menangani kejadian tenggelam. Harapan kami, Pokdarwis bersama Destana dapat terus bersinergi apabila terjadi keadaan darurat maupun bencana di Desa Maja.”

Sementara itu, mahasiswa KKN Universitas Lampung, Widya, mengaku memperoleh perspektif baru mengenai pentingnya keselamatan penolong sebelum melakukan evakuasi. “Kami diajarkan bagaimana menolong korban tenggelam tanpa membahayakan diri sendiri. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dan menjangkau lebih banyak masyarakat.”
Melalui pelatihan ini, Mitra Bentala mendorong terbangunnya masyarakat pesisir yang tidak hanya memahami risiko, tetapi juga memiliki keterampilan untuk bertindak cepat dan aman ketika keadaan darurat terjadi. Setiap pengetahuan yang dibagikan dan setiap simulasi yang dilakukan merupakan investasi untuk menyelamatkan nyawa. Sejalan dengan semangat World Drowning Prevention Day 2026, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara pemerintah, relawan kebencanaan, kelompok masyarakat, dan dunia pendidikan dalam membangun pesisir yang lebih aman, tangguh, dan siap menghadapi berbagai risiko berbasis air.


