MitraBentala.or.id — Mengelola kawasan wisata tidak hanya membutuhkan daya tarik dan potensi alam, tetapi juga kelompok masyarakat yang mampu mengelolanya secara terarah dan berkelanjutan. Hal tersebut menjadi salah satu pembelajaran dalam Workshop Penguatan Kelembagaan Pokdarwis Desa Kelawi yang dilaksanakan di Pantai Minang Rua, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, pada Minggu, 27 September 2026.

Kegiatan yang diikuti oleh anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Kelawi ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat kembali kondisi kelompok mereka, menggali potensi yang dimiliki, mengenali tantangan yang dihadapi, sekaligus membicarakan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat kelembagaan Pokdarwis dalam mengelola pariwisata berbasis masyarakat.

Workshop tersebut merupakan bagian dari Program SPRINT II (Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas) yang dilaksanakan Mitra Bentala. Dalam konteks pengurangan risiko bencana, penguatan kelembagaan masyarakat menjadi bagian penting karena kelompok yang memiliki kapasitas dan pembagian peran yang baik akan lebih mampu menghadapi berbagai perubahan dan tantangan yang dapat memengaruhi keberlangsungan kehidupan masyarakat.

Bagi Desa Kelawi, Pokdarwis memiliki peran penting dalam mengelola sekaligus mengembangkan potensi wisata, khususnya kawasan Pantai Minang Rua. Karena itu, penguatan kelembagaan tidak hanya berkaitan dengan struktur organisasi, tetapi juga bagaimana anggota memahami peran masing-masing, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, merencanakan kegiatan, mengelola potensi yang dimiliki, serta membangun jejaring dan kerja sama dengan berbagai pihak.

Atas dasar tersebut, workshop dirancang sebagai ruang refleksi dan pembelajaran bersama. Alih-alih memberikan penilaian dari luar, anggota Pokdarwis diajak untuk melihat sendiri kondisi kelompok berdasarkan pengalaman yang mereka hadapi dalam menjalankan aktivitas wisata sehari-hari.

Diskusi dilakukan secara terbuka dan partisipatif menggunakan metode analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Melalui metode ini, anggota Pokdarwis bersama-sama mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan internal kelompok, sekaligus melihat peluang dan tantangan dari lingkungan di sekitar mereka yang dapat memengaruhi perkembangan kelembagaan maupun pengelolaan wisata.

Proses tersebut menjadi kesempatan bagi anggota untuk membicarakan kondisi kelompok dari berbagai sudut pandang. Pengalaman yang selama ini dihadapi dalam mengelola Pantai Minang Rua menjadi dasar untuk melihat apa yang sudah menjadi kekuatan, bagian mana yang masih perlu diperbaiki, serta potensi apa yang masih dapat dikembangkan.

Ketua Pokdarwis Desa Kelawi, Saiman Alex C, menyampaikan bahwa proses analisis SWOT membantu anggota melihat kondisi kelembagaan secara lebih menyeluruh. “Pertemuan ini membantu kami untuk melihat dan menganalisis kembali kekuatan, kelemahan, serta potensi yang ada di dalam kelompok melalui analisis SWOT. Proses analisis ini juga kami lakukan bersama-sama dengan anggota kelompok, sehingga kami bisa melihat kondisi kelompok dari berbagai sudut pandang,” ujarnya.

Menurut Saiman, proses tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi Pokdarwis untuk kembali menggali berbagai potensi yang dimiliki Pantai Minang Rua. “Kami berharap potensi yang ada dapat terus dikembangkan dan digali lebih jauh, karena Minang Rua memiliki banyak keunggulan dan sejauh ini juga sudah memiliki berbagai prestasi. Dengan adanya proses seperti ini, kami menjadi lebih memahami apa yang menjadi kekuatan kelompok dan apa yang masih perlu dikembangkan ke depannya,” tambahnya.

Di sisi lain, proses evaluasi juga membuka ruang bagi anggota untuk membicarakan tantangan yang secara langsung memengaruhi aktivitas mereka. Siti Mutmainah, administrator Pantai Minang Rua, melihat ketidakstabilan jumlah pengunjung sebagai salah satu tantangan yang perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan kawasan wisata. “Melalui diskusi ini, kami akhirnya bisa mengevaluasi kembali apa saja yang menjadi kekuatan dan kelemahan di kelompok Pokdarwis. Salah satu tantangan terbesar yang kami hadapi saat ini adalah ketidakstabilan jumlah pengunjung,” ungkapnya.

Menurut Siti, kondisi jumlah kunjungan yang tidak menentu turut berdampak pada keberlangsungan aktivitas para pelaku dan pekerja yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan wisata di Pantai Minang Rua. Kondisi abu vulkanik yang terjadi saat ini juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi minat kunjungan wisatawan. “Jumlah pengunjung yang datang tidak selalu menentu, terlebih dengan kondisi abu vulkanik yang terjadi saat ini. Banyak pengunjung yang akhirnya membatalkan pesanan atau mengurungkan niat untuk berkunjung ke Minang Rua,” jelas Siti.

Bagi Siti, stabilitas kunjungan bukan hanya berkaitan dengan keberlangsungan destinasi wisata, tetapi juga dengan kehidupan masyarakat yang terlibat di dalamnya. Ketika kunjungan wisata menurun, para pekerja dan pelaku usaha di kawasan wisata turut merasakan dampaknya. “Harapan saya ke depan adalah situasi yang lebih stabil, terutama bagi para pekerja di Minang Rua, agar mereka dapat terus bekerja dan menjalankan aktivitasnya dengan lebih tenang dan berkelanjutan,” harapnya.

Setelah anggota kelompok melakukan proses identifikasi, Mitra Bentala memberikan masukan dan penguatan terhadap hasil diskusi. Masukan tersebut diarahkan untuk membantu Pokdarwis melihat potensi yang masih dapat dikembangkan, memperkuat aspek kelembagaan yang masih memiliki keterbatasan, serta membuka peluang kerja sama dan pengembangan kegiatan ke depan.

Bagi Pokdarwis Desa Kelawi, hasil analisis SWOT bukan sekadar catatan mengenai kondisi kelompok, tetapi dapat menjadi bahan untuk menentukan langkah selanjutnya. Dari proses tersebut, anggota memiliki kesempatan untuk melihat kembali bagaimana kelompok bekerja, apa yang perlu diperbaiki bersama, serta bagaimana potensi Pantai Minang Rua dapat terus dikembangkan dengan mempertimbangkan berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat.

Penguatan kelembagaan menjadi semakin penting ketika pengelolaan wisata berhadapan dengan situasi yang tidak selalu dapat diprediksi, termasuk perubahan jumlah kunjungan maupun kondisi lingkungan dan kebencanaan. Kelompok masyarakat yang mampu mengenali kekuatan, memahami keterbatasan, dan merespons perubahan secara bersama memiliki modal penting untuk membangun pengelolaan wisata yang lebih tangguh.

Melalui workshop ini, Pokdarwis Desa Kelawi tidak hanya diajak untuk melihat potensi Pantai Minang Rua, tetapi juga melihat kembali kapasitas masyarakat yang berada di balik pengelolaannya. Dengan kelembagaan yang semakin kuat, partisipasi anggota yang terus dibangun, serta kemampuan untuk mengenali dan merespons risiko, masyarakat diharapkan dapat terus menjadi pelaku utama dalam menjaga dan mengembangkan Pantai Minang Rua sebagai destinasi wisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *