Taman Keanekaragaman Hayati Sebagai Media Belajar Siswa Mengenal Alam

Taman Kehati Galih Batin ajak siswa SMAN 1 Kota Agung mengenal konservasi melalui kunjungan industri dan jelajah alam.

TANGGAMUS — Sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan Sekolah Alam Taman Kehati Galih Batin di Pekon Teba, Kabupaten Tanggamus, pada 21 Oktober 2026. Kegiatan bertema “Youth for Biodiversity: Belajar, Beraksi, Lindungi Kehati Tanggamus” ini mempertemukan siswa dan guru SMAN 1 Kota Agung, Dinas Perhubungan (Dishub), tim CSR AQUA Tanggamus, Mitra Bentala, serta Kelompok Kehati dalam pembelajaran bersama tentang keanekaragaman hayati, konservasi air, dan perilaku hidup bersih dan sehat.​​

Pengarahan awal jelajah area Taman Kehati Galih Batin

Pengenalan lingkungan di area pabrik AQUA Tanggamus.

Kegiatan ini diselenggarakan melalui kolaborasi Mitra Bentala dan AQUA Tanggamus dalam program Taman Kehati sebagai ruang belajar di luar kelas bagi generasi muda. Peserta siswa berasal dari sejumlah kelompok kegiatan sekolah, antara lain ekstrakurikuler, PAPALA, kelompok karya ilmiah, dan Pramuka. Melalui kunjungan industri dan jelajah alam, peserta diajak menghubungkan pengetahuan di sekolah dengan praktik pengelolaan lingkungan di lapangan.

Fasilitator menjelaskan kondisi lingkungan dan pentingnya menjaga kawasan Taman Kehati Galih Batin.

Mengenal taman sebagai laboratorium alam
Di kawasan Taman Kehati Galih Batin, peserta mengikuti penjelajahan dan penjelasan lapangan yang dipandu oleh Anggit dan Zulkifli dari Mitra Bentala. Salah satu materi yang diperkenalkan adalah tagging pohon, yaitu penandaan dan pengenalan data pohon dengan barcode agar informasi tentang jenis serta keberadaan vegetasi dapat dikenali dan diakses dengan mudah dan ini juga menjadi bagian dari upaya pendataan keanekaragaman hayati.

 

 

 

 

Panduan kegiatan menjelaskan bahwa Taman Kehati Galih Batin berada di Pekon Teba dengan luas sekitar 3,2 hektare dan berfungsi sebagai laboratorium alam, pusat pembibitan, serta ruang terbuka hijau. Kawasan ini dikelola bersama masyarakat sekitar melalui Kelompok Kehati. Dalam panduan inventarisasi, taman tercatat memiliki 857 individu pohon dari 75 spesies, serta menjadi habitat bagi 22 spesies fauna. Data tersebut memperlihatkan pentingnya pencatatan dan pemeliharaan kawasan sebagai bagian dari upaya menjaga keanekaragaman hayati lokal.

Peserta menyusuri kawasan hijau untuk belajar langsung mengenai keanekaragaman hayati

 Edukasi WASH di dekat mata air

Pada bagian akhir pembelajaran lapangan, Anggit dan Zulkifli juga menyampaikan materi WASH (Water, Sanitation, and Hygiene) di dekat sumber mata air. Materi ini mengaitkan pentingnya menjaga sumber air dengan kebiasaan sanitasi dan kebersihan dalam kehidupan sehari-hari. Sesuai panduan, Mata Air Way Lihik merupakan sumber air yang dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan air bersih dan persawahan di hilir. Mata air tersebut diperuntukkan bagi kelestarian lingkungan dan masyarakat sekitar, serta bukan sumber air untuk produksi pabrik AQUA.

Kunjungan ke area produksi dilakukan dengan mengikuti arahan keselamatan yang berlaku.

 

Mengenal pengelolaan industri
Rangkaian kegiatan juga mencakup kunjungan ke area produksi AQUA Tanggamus. Melalui sesi ini, peserta diperkenalkan pada lingkungan industri dan pentingnya mengikuti ketentuan keselamatan selama berada di area kerja. Kunjungan industri menjadi pelengkap pembelajaran di taman, sehingga peserta dapat melihat bahwa perhatian terhadap mutu, keselamatan, dan lingkungan perlu berjalan beriringan.

 

 

 

 

Peserta mengikuti sesi penjelasan di ruang pertemuan.

Peserta turut menyampaikan pendapat dalam sesi diskusi interaktif.

Antusiasme peserta dan pengelola Taman Kehati menjadi modal untuk keberlanjutan kegiatan. Pihak sekolah menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan. Ke depan, kelompok Pramuka direncanakan melakukan kegiatan praktik di Taman Kehati, sehingga kunjungan ini dapat berlanjut menjadi pengalaman belajar dan aksi nyata. Pengelola Taman Kehati menyambut rencana tersebut dengan antusias dan membuka ruang bagi pelajar untuk belajar serta berkolaborasi dalam kegiatan konservasi.

Melalui Sekolah Alam ini, kolaborasi Mitra Bentala, AQUA Tanggamus, sekolah, Dishub, dan Kelompok Kehati diharapkan memperluas keterlibatan generasi muda dalam perlindungan lingkungan. Pembelajaran tidak berhenti pada pengenalan jenis pohon atau sumber air, tetapi diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan menjaga lingkungan di sekolah maupun di tempat tinggal masing-masing.

Tulis komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *