MitraBentala.or.id – Menyelenggarakan kegiatan Diseminasi Program Pemberdayaan Nelayan Skala Kecil untuk Pengelolaan Perikanan di Pantai Timur Provinsi Lampung pada Kamis 12 Maret 2026 di Hotel Amalia. Kegiatan ini menjadi forum untuk memaparkan hasil pelaksanaan program pendampingan nelayan yang telah dijalankan selama dua tahun di wilayah pesisir timur Lampung.
Direktur Mitra Bentala dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan diseminasi ini merupakan bagian dari upaya pertanggungjawaban program kepada para pemangku kepentingan sekaligus ruang untuk memperkuat kolaborasi dalam pengelolaan perikanan yang berkelanjutan di Provinsi Lampung. Program ini didukung oleh Packard Foundation dan dijalankan bersama Environmental Defense Fund (EDF) sebagai mitra kolaborasi.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan pemerintah daerah seperti Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, Dinas Perikanan Kabupaten Lampung Timur, Tulang Bawang, dan Lampung Tengah, serta para penyuluh perikanan dari wilayah tersebut. Selain itu, hadir pula pemerintah desa, perwakilan nelayan dari desa-desa lokasi program, serta organisasi masyarakat sipil seperti WALHI, Lembaga Bantuan Hukum (LBH), EDF, serta Aliansi Jurnalis Independen Kota Bandar Lampung.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, Liza Derni, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan diseminasi ini menjadi momentum penting untuk melihat hasil dari upaya penguatan perikanan berkelanjutan di pesisir timur Lampung selama dua tahun terakhir.
“Acara diseminasi Mitra Bentala ini merupakan pemaparan hasil pelaksanaan program penguatan perikanan berkelanjutan di pesisir timur Lampung selama dua tahun. Melalui kegiatan ini juga terbangun kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan dari tingkat kabupaten, desa, hingga bapak dan ibu nelayan. Terima kasih kepada Mitra Bentala, karena kami tidak hanya dapat melihat hasil tangkapan perikanan di pesisir timur Lampung tetapi juga berbagai produk hasil perikanan dari wilayah tersebut,” ujarnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman dan tantangan dari perwakilan nelayan di desa-desa dampingan di Lampung Timur, Lampung Tengah, dan Tulang Bawang. Dalam sesi ini, para nelayan menyampaikan berbagai dinamika yang mereka hadapi di lapangan, termasuk dampak penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan terhadap hasil tangkapan, khususnya komoditas rajungan.

Perwakilan nelayan dari Lampung Tengah, Edi Alamsyah, menyampaikan bahwa program pendampingan telah membawa perubahan yang cukup nyata bagi nelayan di wilayahnya.
“Di Lampung Tengah, khususnya dari informasi nelayan Kuala Seputih, perubahannya sangat jelas. Sebelum ada program ini banyak nelayan yang memasang jaring dan bubu kemudian sering terkena kapal trawl. Sekarang ada perubahan perilaku dan kesadaran, bahkan penghasilan nelayan juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya.
Selain membahas tantangan, forum diseminasi ini juga menghasilkan beberapa rekomendasi strategis untuk memperkuat keberlanjutan program dan pengelolaan perikanan di wilayah pesisir Lampung. Tiga rekomendasi utama yang dihasilkan antara lain:
- Strategi mobilisasi sumber daya, termasuk penguatan peran kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) dan forum nelayan agar kegiatan pengelolaan perikanan berkelanjutan dapat terus berjalan dan berkelanjutan.
- Peningkatan ekonomi masyarakat pesisir, tidak hanya melalui pembuatan produk olahan perikanan tetapi juga melalui peningkatan kapasitas usaha dan perluasan akses pasar.
- Penguatan kolaborasi antar pemangku kepentingan, baik pemerintah, masyarakat nelayan, maupun organisasi masyarakat sipil untuk memastikan pengelolaan sumber daya perikanan yang lebih berkelanjutan.

Melalui kegiatan diseminasi ini, diharapkan praktik-praktik baik yang telah dilakukan selama program berlangsung dapat menjadi pembelajaran bersama serta mendorong komitmen kolaboratif dalam menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Provinsi Lampung.

