MitraBentala.or.id- Ancaman perubahan iklim seperti abrasi dan terjangan ombak besar di kawasan pesisir membutuhkan penanganan yang serius dan terencana. Merespons hal tersebut, Mitra Bentala melalui program Low Carbon and Resilient Indonesia Programme (L-CRISP) yang didukung oleh Coast Facility dan UK International Development, resmi merampungkan pembuatan area pembibitan (nursery) benih mangrove di dua desa pesisir, yaitu Desa Sidodadi, Kabupaten Pesawaran, dan Desa Sumbernadi, Kabupaten Lampung Selatan.

Kegiatan pembuatan nursery yang berlangsung sepanjang periode Februari 2026 ini bertujuan utama untuk mendukung ketersediaan stok bibit yang berkualitas. Bibit-bibit ini nantinya akan digunakan untuk kegiatan rehabilitasi mangrove secara masif di area pesisir guna menangkal dampak buruk perubahan iklim.

Secara fisik, sarana dan prasarana persemaian ini dibangun dengan menggunakan bak semai sederhana yang dirancang khusus untuk mengoptimalkan pertumbuhan benih serta zero waste polybag daur ulang. Kapasitas nursery di masing-masing desa mampu menampung hingga 5.000 bibit. Adapun jenis benih propagul mangrove yang disemai difokuskan pada jenis bakau kecil dan besar, yakni Rhizophora stylosa dan Rhizophora mucronata.

Proses pembangunan sarana persemaian ini dilakukan secara partisipatif melalui beberapa tahapan, mulai dari diskusi rencana kerja kelompok, penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB), implementasi pembuatan sarana, aktivitas pembibitan, hingga penyiapan jadwal perawatannya.

Pembuatan sarana pembibitan ini tidak hanya bertujuan untuk rehabilitasi fisik pesisir. Lebih dari itu, program ini ditargetkan mampu meningkatkan keanekaragaman spesies mangrove, memperluas cakupan area hijau, dan secara langsung berdampak pada peningkatan kesehatan ekosistem pesisir di kedua desa.

Praktik pembuatan nursery ini dikelola langsung oleh Kelompok Pengelola Mangrove yang telah dibentuk pada inisiasi aktivitas sebelumnya di masing-masing desa. Sesuai dengan prinsip Gender, Ekualitas, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI), keanggotaan kelompok pengelola ini dipastikan melibatkan minimal 30% perempuan.

Peran perempuan sangat menonjol dalam proses ini, khususnya pada tahap persiapan media tanam menggunakan polybag serta penanaman benih ke dalam bak persemaian. Keterlibatan ini memberikan ruang bagi perempuan pesisir untuk aktif dalam upaya konservasi.

Selain dimanfaatkan untuk rehabilitasi area pesisir, stok bibit mangrove dari nursery ini ke depannya juga diperuntukkan untuk dijual kepada umum maupun pihak luar. Langkah ini diproyeksikan menjadi alternatif sumber pendapatan ekonomi yang baru bagi kelompok dan masyarakat setempat.

Salah satu perwakilan kelompok perempuan yang terlibat aktif dalam program ini Muryati,  mengungkapkan apresiasi dan pandangannya. “Kami sangat senang karena dilibatkan bukan hanya saat bekerja membibitkan saja, tetapi sejak awal diskusi perencanaan dan penyusunan kegiatan. Ini membuat kami merasa memiliki peran penting, dan keterampilan baru dalam pembibitan ini harapannya bisa membawa manfaat ekonomi juga bagi kami dan keluarga ke depannya,” ujarnya.

Sebagai rencana tindak lanjut, kelompok pengelola akan berfokus pada perawatan persemaian untuk memastikan seluruh bibit tumbuh dengan baik, sehingga nursery ini dapat terus menyediakan bibit mangrove yang unggul dan berkualitas tinggi untuk kebutuhan rehabilitasi berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *