Mitra Bentala.or.id— Menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Pertanian Sayuran Organik di Balai Desa Desa Kelawi pada 12 Februari 2026 . Kegiatan ini menjadi ruang temu berbagai pemangku kepentingan untuk menghimpun masukan, pengetahuan, dan pengalaman dalam merumuskan arah pengembangan pertanian sayuran organik berbasis dusun yang melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) di sembilan dusun Desa Kelawi.

FGD ini sekaligus diarahkan untuk membangun kemitraan konkret antara kelompok perempuan desa dengan pemerintah dan sektor swasta, guna memastikan keberlanjutan produksi sekaligus membuka akses pasar bagi hasil pertanian organik.

Potensi Desa Kelawi dalam pengembangan pertanian organik dinilai sangat besar. Ketersediaan lahan pekarangan, kondisi lingkungan yang mendukung, serta peran aktif perempuan dalam pengelolaan pangan keluarga menjadi modal utama. Pertanian sayuran organik juga relatif mudah diterapkan, ramah lingkungan, serta berkontribusi pada penguatan ketahanan pangan rumah tangga dan peluang tambahan pendapatan bagi perempuan desa.

Kegiatan ini dihadiri oleh unsur Pemerintah Desa Kelawi, Dinas Pertanian UPT Bakauheni, Destana Kelawi, masyarakat desa, perwakilan KWT dari berbagai dusun, pelaku usaha, serta media lokal. Dari sektor swasta hadir perwakilan Kedas Hotel & Resort dan Lummay Villa & Resort yang menyatakan komitmen untuk mendukung pemasaran hasil sayuran organik KWT.

Perwakilan Dinas Pertanian UPT Bakauheni, Riry Mardika, menyampaikan bahwa pihaknya telah memberikan dukungan awal berupa bantuan bibit dan sarana pendukung kepada KWT di Desa Kelawi. “Memang saat ini belum merata di sembilan dusun, tetapi bersama Mitra Bentala dan pemerintah desa, kami akan mengupayakan agar pengembangan ini bisa dilakukan secara menyeluruh. Kami juga akan mendorong kelompok tani untuk ikut bergerak mendukung kegiatan KWT,” ujarnya. Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Bakauheni tersebut juga menilai FGD ini sebagai langkah penting dalam membangun kerja bersama. “Kami merasa sangat terbantu dengan adanya forum seperti ini, karena upaya memberdayakan masyarakat memang harus dilakukan secara kolaboratif. Harapannya, ini bisa menjadi langkah awal untuk memperkuat ketahanan pangan, dimulai dari keluarga lalu meluas ke masyarakat,” tambahnya.

Dukungan dari sektor swasta disampaikan oleh Kukuh Wibawanto dari Lummay Villa & Resort. Ia menekankan pentingnya perencanaan jenis tanaman agar produksi antar-KWT tidak saling bersaing. “Sebaiknya ada pengelompokan komoditas per dusun. Misalnya, satu dusun fokus pada pakcoy, dusun lain pada kangkung, sehingga produksi lebih terarah dan terkoordinasi,” jelasnya.

Ia juga mendorong penerapan pola tanam tumpangsari serta integrasi dengan perikanan atau peternakan untuk meningkatkan nilai ekonomi. “Yang kita perlukan sekarang dari FGD ini adalah implementasi kesepakatan secara berkelanjutan, supaya hasil KWT benar-benar bisa dimanfaatkan dan menjadi peluang kolaborasi dengan pelaku usaha,” tambah Kukuh.

Senada dengan itu, Ismanto dari Kedas Hotel & Resort menyatakan kesiapan pihaknya menyerap hasil panen KWT untuk memenuhi kebutuhan sayuran restoran.

“Kami siap membeli hasil panen KWT, bahkan membuka peluang penjualan sayuran segar sebagai oleh-oleh bagi pengunjung setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu. Namun tentu perlu diperhatikan kualitas dan kemasan agar lebih menarik,” ujarnya.

Melalui diskusi ini, peserta FGD mengidentifikasi sejumlah peluang kolaborasi lintas sektor, mulai dari dukungan teknis budidaya, penguatan kapasitas kelompok, akses pasar, hingga strategi branding produk organik Desa Kelawi. Pendekatan berbasis dusun dinilai efektif karena menyesuaikan dengan kondisi lokal serta memastikan keterlibatan perempuan secara merata di seluruh wilayah desa.

Koordinator Program Mitra Bentala, Dewi Ira Rahmawati, menegaskan bahwa FGD ini merupakan langkah awal dalam membangun ekosistem pertanian organik yang kolaboratif dan berkelanjutan. “Kami percaya bahwa penguatan peran perempuan melalui KWT bukan hanya berdampak pada ekonomi keluarga, tetapi juga pada pembangunan desa yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dengan terselenggaranya FGD ini, Desa Kelawi diharapkan mampu menyusun rencana tindak lanjut yang konkret, memperkuat sinergi antar-pemangku kepentingan, serta memastikan pengembangan pertanian sayuran organik di sembilan dusun berjalan secara terarah, produktif, dan berkelanjutan. Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen bersama untuk mewujudkan desa yang mandiri pangan, berdaya secara ekonomi, dan berbasis kolaborasi multipihak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *