MitraBentala.or.id- Air menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, baik sebagai sumber penghidupan maupun ruang untuk beraktivitas dan berekreasi. Namun, di balik manfaatnya, air juga menyimpan risiko yang dapat mengancam keselamatan jiwa. Salah satunya adalah tenggelam, yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di berbagai belahan dunia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 300.000 orang meninggal akibat tenggelam sepanjang 2021. Lebih dari 90 persen kematian akibat tenggelam terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, sementara anak-anak dan kelompok usia muda termasuk yang paling rentan. Angka ini menunjukkan bahwa tenggelam bukan sekadar kecelakaan yang terjadi secara tiba-tiba, tetapi juga persoalan keselamatan yang membutuhkan perhatian, pengetahuan, dan upaya pencegahan bersama.

Pencegahan tenggelam tidak hanya berkaitan dengan menghindari area berbahaya atau meningkatkan kewaspadaan saat berada di sekitar air. Ketika insiden terjadi, kemampuan memberikan pertolongan secara tepat juga menjadi hal penting. Namun, keinginan untuk menyelamatkan seseorang perlu disertai pemahaman tentang teknik penyelamatan yang aman. Tanpa keterampilan yang memadai, orang yang berusaha menolong justru dapat ikut berada dalam bahaya dan menjadi korban berikutnya.
Karena itu, keselamatan penyelamat atau rescuer perlu menjadi bagian utama dalam upaya pencegahan tenggelam. Penyelamatan di air membutuhkan penilaian situasi, pemahaman teknik pertolongan, serta kemampuan mengenali batas keselamatan diri. Setelah korban berhasil dievakuasi, keterampilan pertolongan pertama, termasuk resusitasi jantung paru (CPR) sesuai pelatihan, juga dapat menjadi bagian penting dari respons awal sebelum bantuan medis tersedia. Pertolongan perlu dilakukan dengan mengikuti prosedur keselamatan dan meminta persetujuan ketika situasi memungkinkan, tanpa menunda tindakan penyelamatan darurat yang diperlukan.

Pemahaman inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam pelatihan pencegahan tenggelam yang dilaksanakan melalui Program SPRINT II. Kegiatan ini melibatkan anggota Desa Tangguh Bencana (DESTANA) Desa Kelawi, pada 14 Oktober 2026 untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi situasi darurat di perairan. Pelatihan tidak hanya membahas bagaimana memberikan pertolongan kepada korban, tetapi juga menekankan pentingnya memastikan bahwa tindakan penyelamatan tidak menambah jumlah korban.
Bertempat di Green Canyon Kedas Resort, pelatihan ini turut melibatkan staf penjaga (guard) Green Canyon untuk mengikuti praktik dan belajar bersama anggota DESTANA. Pertemuan ini menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan sekaligus melatih keterampilan yang relevan dengan situasi di lapangan. Melalui praktik teknik penyelamatan di air dan pertolongan awal, peserta diajak memahami bahwa respons terhadap insiden tenggelam membutuhkan kesiapan, ketepatan tindakan, dan perhatian terhadap keselamatan semua pihak yang terlibat.

Pelatihan yang dilakukan secara rutin setiap tahun ini menjadi bagian dari upaya menjaga kesiapsiagaan masyarakat. Keterampilan penyelamatan perlu terus dipelajari dan dilatih agar pengetahuan tidak berhenti sebagai teori, tetapi dapat diterapkan ketika situasi darurat benar-benar terjadi. Di sisi lain, pencegahan tetap menjadi langkah penting: mengenali risiko, memperhatikan kondisi lingkungan, serta mengikuti prosedur keselamatan saat beraktivitas di sekitar air.
Pada akhirnya, upaya mencegah tenggelam bukan hanya tentang kemampuan menyelamatkan orang lain, tetapi juga tentang memastikan setiap tindakan pertolongan dilakukan dengan aman dan tepat. Dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, anggota DESTANA dan pihak yang beraktivitas di kawasan perairan diharapkan dapat berperan lebih siap dalam menghadapi keadaan darurat. Sebab, pertolongan yang baik bukan hanya berusaha menyelamatkan satu nyawa, tetapi juga melindungi orang-orang yang mengambil risiko untuk menyelamatkannya.


