MitraBentala.or.id- bersama Global Plastic Action Partnership (GPAP) kembali memperkuat komitmen mereka dalam menangani persoalan sampah plastik dan menjaga keanekaragaman hayati di wilayah pesisir. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 26 Juni 2025, di Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Timur, dengan melibatkan berbagai unsur pemerintah hingga masyarakat akar rumput.

Sebagai bentuk kolaborasi nyata, Mitra Bentala menggandeng instansi terkait seperti Bapperinda Kota Bandar Lampung, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pariwisata, serta Dinas Perikanan dan Kelautan. Sosialisasi ini juga dihadiri Lurah Kota Karang Bambang Heryanto, RT, kepala lingkungan I dan II, pelajar, mahasiswa, serta kelompok perempuan yang peduli terhadap isu lingkungan.

Dalam sambutannya, Bambang Heryanto menyampaikan terima kasih atas keterlibatan semua pihak. Ia menegaskan bahwa persoalan sampah plastik masih menjadi masalah utama di wilayahnya. Sampah jenis ini banyak ditemukan menumpuk di kawasan mangrove dan mencemari perakaran pohon. Kondisi ini mengganggu kelestarian pesisir dan menjadi perhatian warga sekitar.

Direktur Mitra Bentala, Rizani, menjelaskan bahwa produksi sampah plastik terus meningkat dari waktu ke waktu. Menurutnya, jika persoalan ini terus dibiarkan, maka mangrove dan biota laut akan mengalami kerusakan serius. Sampah plastik bukan lagi persoalan lokal, tetapi sudah menjadi isu global yang membutuhkan perhatian bersama.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Perekonomian Bappeda Bandar Lampung Rein Susnida Hesty menyebutkan bahwa penanganan sampah plastik tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor yang melibatkan pemerintah dan masyarakat. Rein juga mengapresiasi langkah Mitra Bentala yang dinilai sangat membantu upaya Pemkot dalam mengatasi persoalan lingkungan.

Lebih lanjut, Manager Program Mitra Bentala, Ogja Adjitio, memaparkan data global yang cukup mengkhawatirkan. Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2040, jumlah sampah plastik di dunia diperkirakan mencapai 37 juta ton per tahun. Dari angka tersebut, 20 persen berasal dari limpasan daratan yang mencemari wilayah pesisir. Ogja juga menyampaikan bahwa sejak 2016 hingga 2040, total kerugian akibat dampak sampah plastik diperkirakan mencapai 281 triliun dolar AS.

Sebagai bentuk kontribusi dari masyarakat, Mastua yang mewakili kelompok perempuan mengusulkan pembentukan bank sampah di lingkungan mereka. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi sampah plastik dan meningkatkan kesadaran warga dalam mengelola limbah rumah tangga.

Data dari World Bank menyebutkan bahwa Indonesia memproduksi 7,8 juta ton sampah plastik setiap tahun, dan sebanyak 4,9 juta ton tidak dikelola dengan baik. Di Bandar Lampung sendiri, BPS mencatat total produksi sampah pada tahun 2024 mencapai 317.561 ton per tahun. Sebagian besar sampah tersebut berakhir di pesisir dan memperparah pencemaran lingkungan.

Sebagai gambaran nyata, wilayah Kota Karang dan Pulau Pasaran mengalami dampak langsung dari krisis sampah plastik. Di Pulau Pasaran, timbunan sampah mencapai 149.000 kg per tahun, dengan 64 persen berupa residu plastik. Keberadaan sampah ini merusak ekosistem mangrove, mencemari lingkungan, dan mengancam industri perikanan yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat setempat.

Melalui kegiatan ini, Mitra Bentala dan GPAP berharap dapat memperkuat sinergi semua pihak dalam upaya menanggulangi sampah plastik secara berkelanjutan. Rizani menutup kegiatan dengan harapan bahwa perubahan dapat dimulai dari tingkat lokal dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

1 Comment

  1. Mintra bentala is the best dalam membantu masyarakat peduli lingkungan

Comments are closed.