MitraBentala.or.id- Upaya penguatan kapasitas komunitas dalam pengurangan risiko bencana dan adaptasi berbasis masyarakat semakin diperkuat melalui kegiatan learning visit (kunjungan pembelajaran) yang dilaksanakan oleh Mitra Bentala ke Timor-Leste pada 1–4 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari skema peer-to-peer learning dan South–South knowledge exchange Program SPRINT II, yang melibatkan komunitas dampingan dari Indonesia dan Timor-Leste.

Delegasi Indonesia yang hadir untuk learning visit terdiri dari:

  • Mitra Bentala: Koordinator Program, Dewi Ira Rahmawati, yang turut membawa dua perwakilan komunitas dampingan, yakni Yuni Shelviana dari FPRB Desa Maja dan Toni Saputra dari Destana Desa Maja.
  • Paluma Nusantara: Program Manager, Nanang Priyana, bersama dua wakil desa dampingan, yaitu Yuni Budiarti dari FPRB Desa Canti dan Elma Dwi Tami dari Destana Desa Rajabasa.
  • ADPC: Konsultan program, Supriyanto.

Sebelum melakukan kunjungan lapangan, Mitra Bentala dan Paluma Nusantara mengadakan sesi sharing dan diskusi bersama MAHARU dan NAFOFILA untuk saling berbagi pengalaman, pendekatan program, serta capaian masing-masing organisasi dalam implementasi Program SPRINT di Indonesia dan Timor-Leste.

PEMBELAJARAN DI WILAYAH KERJA MAHARU

Wilayah kerja MAHARU mencakup dua desa dampingan, yaitu Desa Aituto dan Desa Mulo.

  1. Desa Aituto, Kecamatan Maubisse

Pada hari pertama, tim berkunjung ke kelompok sayuran organik yang mempraktikkan sistem simpan pinjam internal. Salah satu pembelajaran penting di Desa Aituto adalah keberhasilan kelompok sayuran organik yang telah berkembang pesat berkat pola kerja yang disiplin, manajemen yang rapi, serta komitmen kuat para anggotanya. Kelompok ini mampu melakukan panen secara rutin setiap bulan dan menyalurkan hasil panennya ke pasar lokal serta konsumen tetap. Aktivitas ini tidak hanya membantu meningkatkan perekonomian anggota, tetapi juga membuat kas kelompok terus bertambah dari hasil penjualan. Dengan kemandirian yang dibangun serta solidaritas yang kuat, kelompok sayuran organik di Desa Aituto menjadi contoh praktik pertanian organik yang luar biasa dan sangat menginspirasi, sehingga mendapat apresiasi tinggi dari tim Indonesia selama kunjungan.

Pada hari kedua, peserta mengunjungi lokasi sumber air bersih yang dikembangkan MAHARU.

Sumber air yang berada di bukit tinggi tersebut sebelumnya merupakan mata air alami yang tidak terawat. Namun kini telah dibangun bak penampung dan diperkuat infrastrukturnya sehingga masyarakat tidak lagi kesulitan mengakses air bersih. Lokasi ini merupakan tempat masyarakat biasa mengambil air dengan membawa jerigen dari rumah—sebuah perjalanan yang kini jauh lebih mudah berkat dukungan program.

  1. Desa Mulo, Kecamatan Hato-Builiko

Di desa ini, peserta melihat langsung pengelolaan kelompok simpan pinjam dan proyek pengembangan sumber air. Kelompok simpan pinjam berjalan sangat baik karena masyarakat mematuhi seluruh aturan yang telah disepakati.

Sekretaris Kelompok Simpan Pinjam, Ibu Constantina, menjelaskan:
“Kelompok ini bermula dari iuran wajib sebesar 250 USD per anggota, ditambah dukungan dana dari MAHARU. Saat ini, dana kelompok telah mencapai sekitar 4.200 USD. Semua anggota tertib karena kami menerapkan sanksi bagi yang melanggar aturan, termasuk keterlambatan pengembalian pinjaman. Warga non-anggota dapat meminjam dengan bunga berbeda setelah mendapat persetujuan kepala desa.”

Pengembangan sumber air juga sangat dirasakan manfaatnya. Sebelum perbaikan, warga harus berjalan jauh untuk memperoleh air. Kini, setelah infrastruktur dibangun MAHARU, masyarakat dapat mengakses air lebih dekat dan lebih layak.

KUNJUNGAN KE WILAYAH KERJA NAFOFILA

Dalam wilayah kerja NAFOFILA, tim mengunjungi dua desa dampingan:

  1. Desa Leo-Lima, Kecamatan Hato-Udo

Di desa ini tim melihat kegiatan produktif masyarakat, seperti kelompok penjahit, dua kelompok sayuran organik, dan kelompok simpan pinjam yang merupakan gabungan dari ketiga kelompok tersebut. Kelompok berjalan tertib dengan sistem pengembalian maksimal 6 bulan dan bunga 5%, dengan mekanisme jaminan berupa aset atau hewan ternak.

Kepala Desa Leo-Lima, Francisco da Costa, menyampaikan:
“Semua anggota tertib karena kami menerapkan peraturan yang harus dipatuhi. Peminjam wajib menyerahkan jaminan jika tidak mengembalikan pinjaman tepat waktu. Sejauh ini tidak ada yang melanggar aturan.”

  1. Desa Manu-Tasi, Kecamatan Ainaro

Di Desa Manu-Tasi, tim mengunjungi proyek pengembangan sumber air yang dibangun NAFOFILA. Daerah pegunungan ini sebelumnya tidak memiliki fasilitas penampungan air yang memadai sehingga warga harus berjalan jauh untuk mengambil air. Setelah pembangunan penampung air oleh NAFOFILA, masyarakat kini dapat mengakses air bersih dengan mudah dan lebih dekat dari rumah.

APRESIASI PEMERINTAH DAERAH AINARO

Delegasi Indonesia juga bertemu Sekretaris Daerah Ainaro, Albertinho De Araujo, yang menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Program SPRINT di wilayahnya.

“Program ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam penguatan kelompok ekonomi, pengelolaan sumber air, dan peningkatan kapasitas komunitas. Kami menyambut baik kunjungan tim dari Indonesia dan berharap pertukaran pengetahuan ini terus berlanjut agar MAHARU dan NAFOFILA dapat memperkuat program mereka ke depan.”

Kunjungan pembelajaran ke Timor-Leste ini memberikan pengalaman berharga terkait praktik baik komunitas dalam pengelolaan ekonomi kelompok, konservasi sumber air, serta kolaborasi dengan pemerintah lokal. Pertukaran pengetahuan antara Indonesia dan Timor-Leste menjadi momentum penting untuk memperkuat kapasitas komunitas di kedua negara dalam menjalankan Program SPRINT II.

1 Comment

  1. Terima kasih banyak atas upaya Anda, yang menunjukkan hasil yang sangat baik.

    Teruslah berkarya untuk memastikan ketahanan masyarakat terhadap pengurangan risiko bencana.

Comments are closed.