Lampung Selatan, 17 Juli 2025 — Dua desa dampingan Mitra Bentala yang dikenal aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana, Desa Kelawi dan Desa Maja, kembali menunjukkan komitmennya melalui kegiatan peninjauan dan pembaruan dokumen Kajian Kerentanan dan Kapasitas (VCA). Kegiatan ini berlangsung pada 16 Juli di Desa Kelawi dan 17 Juli di Desa Maja, dihadiri oleh anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), Kelompok Destana, aparatur desa, serta perwakilan dari BPBD Lampung Selatan.
Dokumen VCA sebelumnya disusun pada tahun 2024 melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan berbagai elemen masyarakat dan pemangku kepentingan lokal. Dokumen tersebut telah menjadi panduan penting dalam pelaksanaan berbagai aksi mitigasi, seperti perbaikan sumber air, penanaman pohon, pembangunan jalur evakuasi, hingga pengadaan peralatan evakuasi.
Namun, dengan terus berubahnya kondisi sosial, lingkungan, dan ancaman bencana, pembaruan VCA menjadi langkah penting agar tetap relevan dengan situasi terkini.

Rommi Rohiyin dari BPBD Lampung Selatan menegaskan pentingnya dokumen ini “Destana adalah ujung tombak di desa saat terjadi bencana. Penyusunan dokumen VCA sangat penting agar masyarakat memahami zona ancaman di wilayah mereka. Dokumen ini membantu memetakan kerentanan dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana.”
Sementara itu, Topan Riansyah, perwakilan aparatur Desa Kelawi, menyoroti potensi bencana di wilayahnya “Wilayah Desa Kelawi cukup kompleks, mulai dari dataran tinggi, dataran rendah, pesisir pantai hingga sungai. Semua ini berpotensi menimbulkan bencana seperti longsor, banjir, tsunami, hingga kebakaran hutan. Dokumen VCA sangat penting sebagai acuan mitigasi di wilayah seperti ini.”

Dari sisi masyarakat, Bramfi Fatikawa, anggota Destana Desa Maja, memberikan refleksi atas dampak nyata VCA sebelumnya:
“Penyusunan VCA tahun 2024 terbukti bermanfaat. Sebagian besar rekomendasinya telah dijalankan pada 2024–2025, dan memberikan dampak nyata dalam pengurangan risiko bencana. VCA juga menjadi alat advokasi penting bagi pemerintah dan pihak pendamping untuk lebih memahami kondisi kerentanan di desa.”
Kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam memastikan masyarakat desa terus siap dan tangguh menghadapi dinamika risiko bencana yang terus berkembang.



