MitraBentala.or.id– Destana Desa Kelawi memfasilitasi Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Balai PSHT Lampung Selatan, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Selasa (30/6). Kegiatan ini bertujuan untuk membangun komitmen dan kolaborasi multipihak dalam mengembangkan sekolah yang aman dan tangguh terhadap bencana sebagai bagian dari upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di wilayah pesisir.
FGD diikuti oleh perwakilan sekolah dasar, sekolah menengah, madrasah, Pemerintah Desa Kelawi, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), Destana, BPBD Kabupaten Lampung Selatan, perguruan tinggi, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Melalui forum ini, para peserta bersama-sama mengidentifikasi kondisi kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah, menghimpun berbagai masukan mengenai kebutuhan dan tantangan pengembangan SPAB, serta menentukan sekolah yang akan menjadi lokasi awal implementasi program.

Dalam pemaparan materi, fasilitator menjelaskan bahwa Desa Kelawi merupakan salah satu desa pesisir di Kecamatan Bakauheni yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi karena berhadapan langsung dengan Selat Sunda. Ancaman tsunami, gempa bumi, gelombang ekstrem, abrasi pantai, dan kekeringan menjadi risiko yang harus dihadapi masyarakat. Pengalaman tsunami Selat Sunda pada tahun 2018 menjadi pengingat penting bahwa kesiapsiagaan perlu dibangun secara berkelanjutan, termasuk di lingkungan pendidikan.
Saat ini, Desa Kelawi memiliki tujuh satuan pendidikan dengan lebih dari 2.500 siswa dan tenaga pendidik. Besarnya jumlah warga sekolah menjadikan lingkungan pendidikan sebagai salah satu lokasi yang memiliki tingkat kerentanan tinggi ketika bencana terjadi. Namun, sebagian besar sekolah masih menghadapi berbagai keterbatasan, seperti belum terbentuknya Tim Siaga Bencana Sekolah, belum tersedianya prosedur tetap (SOP) keadaan darurat, peta dan jalur evakuasi, serta belum dilaksanakannya simulasi bencana secara rutin.

Melalui Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), sekolah diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dalam menghadapi ancaman bencana melalui penguatan fasilitas yang aman, sistem manajemen penanggulangan bencana di sekolah, serta pendidikan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) bagi seluruh warga sekolah. Selain melindungi peserta didik dan tenaga pendidik, SPAB juga diharapkan dapat membangun budaya sadar bencana yang dapat diterapkan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Dalam sesi diskusi, para peserta menyampaikan berbagai masukan mengenai kebutuhan pengembangan SPAB. Ibu Febri Hartanti, Guru SD Negeri 1 Kelawi, berharap hasil FGD dapat segera diwujudkan dalam bentuk kegiatan nyata di sekolah. “Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti pada tahap diskusi saja, tetapi dapat ditindaklanjuti dengan aksi nyata seperti simulasi dan praktik kesiapsiagaan bencana di sekolah-sekolah. Kegiatan tersebut sangat penting agar guru maupun seluruh warga sekolah memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap tanggap bencana sehingga dapat meminimalkan risiko serta mengurangi potensi jatuhnya korban ketika terjadi bencana,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ibu Salma, Guru MTs MA Al-Munawaroh 1 Bakauheni. Menurutnya, sekolah yang berada di wilayah rawan banjir membutuhkan peningkatan kapasitas secara berkelanjutan. “FGD SPAB ini sangat penting dan bermanfaat bagi kami. Sekolah kami cukup sering mengalami banjir saat curah hujan tinggi, sehingga kami membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan. Harapan kami, ke depan ada pelatihan bagi para guru maupun tenaga pendidik agar mampu melakukan langkah-langkah yang tepat sebelum, saat, dan setelah terjadi bencana,” ungkapnya.
Sementara itu, Bapak Sohirin, perwakilan SMP Negeri 1 Bakauheni, mengapresiasi terselenggaranya forum tersebut karena memberikan ruang bagi sekolah untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi. “Kami mengucapkan terima kasih karena diberikan kesempatan untuk menyampaikan berbagai permasalahan kebencanaan di sekolah kami. Kami berharap Tim Destana dapat memberikan sosialisasi, pelatihan, maupun simulasi secara berkala sehingga seluruh warga sekolah memiliki pemahaman dan kesiapsiagaan menghadapi bencana, mulai dari tahap pencegahan hingga penanganan saat bencana terjadi,” katanya.

Sebagai penutup diskusi, Bapak Tony Saputra, Ketua Tim Destana Desa Kelawi, menegaskan komitmen Destana dalam mendukung pengembangan Program SPAB di wilayah Kecamatan Bakauheni.
“Program Satuan Pendidikan Aman Bencana merupakan salah satu program kerja Destana Desa Kelawi. Kami berharap ke depan dapat memperluas sosialisasi dan pendampingan SPAB ke sekolah-sekolah, khususnya di Kecamatan Bakauheni. Melalui kolaborasi dengan pemerintah, sekolah, dan berbagai pemangku kepentingan, kami ingin membangun budaya kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan sehingga sekolah menjadi tempat yang lebih aman dan tangguh terhadap bencana,” jelasnya.
Melalui FGD ini, para peserta berhasil merumuskan sejumlah rekomendasi awal, di antaranya perlunya pembentukan Tim Siaga Bencana Sekolah, penyusunan SOP keadaan darurat, penyediaan peta dan jalur evakuasi, pelaksanaan simulasi bencana secara berkala, serta penguatan kolaborasi antara sekolah, pemerintah, Destana, FPRB, BPBD, dan berbagai mitra lainnya.


