MitraBentala.or.id- Perubahan iklim tidak hanya mengubah cuaca di laut, tetapi juga menghadirkan tantangan baru bagi sektor budidaya perikanan. Curah hujan yang tidak menentu, perubahan kualitas air, hingga meningkatnya risiko penyakit menjadi ancaman yang dapat memengaruhi produktivitas dan keberlanjutan usaha masyarakat pesisir. Di tengah tantangan tersebut, Climate Smart Aquaculture (CSA) hadir sebagai pendekatan budidaya yang mendorong efisiensi, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya perairan.

Pendekatan ini tidak sekadar berfokus pada peningkatan hasil produksi, tetapi juga pada bagaimana praktik budidaya mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, memanfaatkan sumber daya secara lebih efisien, dan tetap memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dalam jangka panjang.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Mitra Bentala menyelenggarakan Sharing Knowledge (Lesson Learnt) Pengembangan Smart Aquaculture di tiga desa pesisir, yakni Desa Margasari, Kabupaten Lampung Timur dan Desa Sumbernadi, Kabupaten Lampung Selatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Lampung Coastal Resilient and Innovative Sustainability Project (L-CRISP) yang didukung oleh COAST Facility Indonesia.

Mengusung semangat berbagi pengetahuan dan pengalaman, kegiatan ini menghadirkan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan), pemerintah desa, serta masyarakat sekitar. Selaras dengan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), forum ini terbuka bagi seluruh kalangan sehingga setiap peserta memiliki kesempatan yang sama untuk memahami berbagai inovasi budidaya yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing. 

Diskusi berkembang pada berbagai peluang penerapan Climate Smart Aquaculture, salah satunya melalui sistem budidaya polikultur. Pendekatan ini dinilai mampu mengoptimalkan pemanfaatan lahan budidaya karena beberapa komoditas dapat dipelihara secara terpadu dalam satu kawasan. Selain meningkatkan produktivitas, sistem ini juga berpotensi menekan biaya operasional karena proses pemantauan, pemberian pakan, serta perawatan dapat dilakukan secara bersamaan sehingga penggunaan tenaga, waktu, dan sumber daya menjadi lebih efisien.

Untuk memperkaya pembelajaran, kegiatan ini menghadirkan Bapak Yudi Utomo, praktisi budidaya kepiting bakau, yang berbagi pengalaman mengenai berbagai inovasi budidaya yang telah diterapkan di lapangan. 

“Dari pengalaman yang saya temui, sebagian besar kegagalan budidaya bukan disebabkan oleh teknologinya, melainkan karena perlakuan sebelum pembenihan maupun saat fase molting yang belum dilakukan secara optimal. Kalau treatment pada tahapan tersebut sudah benar, peluang keberhasilan budidaya akan jauh lebih besar.” Jelas Bapak Yudi. 

Di Desa Margasari dan Desa Sumbernadi, sesi berbagi pengetahuan berfokus pada budidaya kepiting bakau menggunakan sistem Single Crab Box. Teknologi ini menempatkan satu ekor kepiting dalam setiap kompartemen sehingga mampu meminimalkan risiko kanibalisme yang kerap menjadi penyebab tingginya tingkat kematian pada budidaya kepiting. Selain lebih hemat lahan, metode ini juga memudahkan pemantauan kondisi setiap individu kepiting sehingga pengelolaan budidaya menjadi lebih efektif. 

Ibu Ni Wayan Yuliyanti selaku Anggota bidang konservasi dan Pemantauan Desa Sumbernadi, mengungkapkan “Menurut saya, sistem single crab box ini jauh lebih ramah bagi perempuan. Kalau sebelumnya kami harus masuk ke kawasan pantai yang berlumpur dan cukup sulit dijangkau, sekarang budidaya dilakukan di area tambak yang lebih aman. Dengan begitu, perempuan bisa ikut terlibat lebih aktif tanpa terkendala kondisi lapangan.”

Bapak Obi Abroroi mengungkapkan “Penerapan sistem single crab box merupakan inovasi yang sangat menarik karena mampu memisahkan setiap individu kepiting sehingga risiko kanibalisme dapat ditekan secara signifikan. Ke depan, kami juga berharap dapat kembali mengembangkan pembenihan kepiting bakau agar kelompok tidak lagi bergantung pada benih dari alam maupun pasokan dari luar daerah. Jika pembenihan berhasil dilakukan secara mandiri, itu akan menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan usaha budidaya kepiting bakau di Desa Margasari.”

Melalui kegiatan berbagi pengetahuan ini, masyarakat tidak hanya memperoleh wawasan mengenai teknologi budidaya, tetapi juga diajak melihat bahwa inovasi menjadi salah satu kunci dalam membangun sektor perikanan budidaya yang tangguh menghadapi perubahan iklim. Dengan penerapan praktik Climate Smart Aquaculture, pengelolaan budidaya diharapkan dapat berlangsung lebih efisien, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat pesisir, tanpa mengabaikan kelestarian ekosistem yang menjadi sumber kehidupan mereka. 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *