MitraBentala.or.id- Mangrove merupakan benteng alami pesisir yang tidak hanya melindungi pemukiman dari abrasi dan gelombang, tetapi juga menjadi penopang ekonomi warga melalui perikanan dan budidaya. Namun, perlindungan mangrove tidak cukup hanya dengan niat baik, data yang presisi mengenai kondisi dan sebaran kawasannya juga menjadi bagian penting.

Melalui pendataan berbasis spasial (menggabungkan peta digital, citra satelit, dan titik koordinat GPS), kondisi tutupan mangrove dapat dipetakan secara terukur. Pendekatan ini merupakan bagian dari program Lampung Coastal Resilience and Innovative Sustainability Program (L-CRISP) yang didukung oleh COAST Facility Indonesia.

Sharing session mengenai rehabilitasi Mangrove berbasis spatial di Desa Sidodadi

Pada tahap ini, pemetaan difokuskan di dua kawasan potensial ekowisata dan edukasi yaitu Desa Sumbernadi (Lampung Selatan) dan Desa Sidodadi (Pesawaran).

Pendataan spasial memberikan cara pandang baru bagi masyarakat. Kondisi area yang rusak maupun tutupan mangrove yang masih berkembang kini dapat teridentifikasi dengan jelas, sehingga upaya rehabilitasi dapat direncanakan lebih tepat sasaran.

Dalam prosesnya, Farizal, expert pemetaan dari tim Mitra Bentala, mendampingi masyarakat turun langsung ke lapangan. Di Desa Sidodadi, berdasarkan Peraturan Desa (Perdes), kawasan rehabilitasi mangrove tercatat memiliki luas sekitar 12 hektare. Meski demikian, penataan zonasi dan pemetaan perlindungan tetap menjadi kebutuhan mendesak. “Hasil pemetaan menunjukkan adanya pembaruan citra terbaru terhadap tutupan mangrove. Karena itu, diperlukan komitmen bersama agar seluruh area yang telah berkembang dapat terus dipertahankan dan dilindungi dari berbagai bentuk ancaman,” jelas Farizal.

Expert pemetaan bersama masyarakat Desa Sumbernadi

Manfaat peta digital ini dirasakan langsung oleh warga. Ibu Wasirah, anggota kelompok perlindungan mangrove Desa Sidodadi, mengaku peta spasial membantunya memahami kondisi desanya secara nyata. “Area perlindungan mangrove ini membuat kita jadi tahu, ternyata seluas ini kekayaan Sidodadi yang harus dijaga agar tidak hilang di masa mendatang,” ungkapnya.

Pengalaman serupa juga dirasakan warga Desa Sumbernadi. Bapak Komang Widana, Ketua Kelompok Budidaya Kerang Hijau, menceritakan pengalamannya saat melakukan pemantauan rutin.“Saat pemantauan kerang hijau, kami melihat ada beberapa pohon mangrove yang mati. Awalnya kami mengira itu kematian alami yang akan pulih sendiri. Tapi setelah melihat hasil pemetaan hari ini, ternyata kondisinya memerlukan perhatian Bersama karena keberadaan mangrove ini sangat menentukan keberlangsungan budidaya kerang hijau maupun kepiting bakau kami,” ujar Pak Komang.

Di lokasi ecowisata mangrove, berdiskusi bersama Kelompok Peduli Mangrove 

Perubahan kondisi ekosistem sering kali tidak terlihat secara menyeluruh jika hanya mengandalkan pengamatan kasat mata dari pinggir pantai. Dari luar, tutupan mangrove mungkin terlihat lebat, padahal di bagian dalam bisa jadi terdapat titik-titik kerusakan atau area terisolasi yang membutuhkan pemulihan.

Rehabilitasi mangrove tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang diseragamkan. Kondisi substrat, kedalaman air, pasang surut, hingga dinamika arus di tiap titik harus diperhitungkan sebelum penanaman dilakukan. Di sinilah keunggulan perlindungan mangrove berbasis spasial menjadi penting karena memadukan data teknis pemetaan dengan pengetahuan lokal masyarakat. Peta menyajikan visualisasi data perubahan kawasan, sementara warga menyumbangkan pemahaman harian atas wilayah mereka. Ketika keduanya dipadukan, keputusan mengenai area mana yang wajib dilindungi, direhabilitasi, atau diprioritaskan untuk penanaman menjadi jauh lebih akurat dan berdasar.

Bersama masyarakat menuju  pengelolaan kawasan yang lebih terarah

Pada akhirnya, pemetaan spasial di Sumbernadi dan Sidodadi bukan sekadar agenda rutin penanaman pohon, melainkan upaya memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola kawasan secara mandiri dan terarah. Sebab pada hakikatnya, mangrove yang terpetakan adalah mangrove yang lebih mudah dipahami dan apa yang kita pahami, akan jauh lebih mudah untuk kita jaga bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *