MitraBentala.or.id- Bagi masyarakat pesisir, kerang hijau bukan sekadar komoditas. Di balik kegiatan budidayanya, terdapat harapan untuk mempertahankan sumber penghidupan sekaligus memanfaatkan potensi perairan secara berkelanjutan. Namun, mengembangkan budidaya di tengah kondisi lingkungan yang terus berubah membutuhkan lebih dari sekadar penambahan produksi. Masyarakat juga perlu menemukan cara budidaya yang sesuai dengan karakteristik perairan mereka.

Dari kebutuhan tersebut, sebuah pertanyaan sederhana kemudian muncul: bisakah material yang mudah ditemukan di sekitar masyarakat digunakan untuk mengembangkan budidaya kerang hijau yang lebih adaptif?

Metode tancap bambu untuk budidaya kerang hijau

Pertanyaan inilah yang menjadi bagian dari pengembangan Pilot Smart Aquaculture Budidaya Kerang Hijau oleh Mitra Bentala Indonesia melalui Lampung Coastal Resilience and Innovative Sustainability Program (L-CRISP) yang didukung oleh COAST Facility Indonesia.

Di Desa Sumbernadi, Lampung Selatan, masyarakat mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui dua pendekatan: metode tancap bambu dan inovasi menggunakan ban karet bekas. Keduanya memang menggunakan material yang sederhana. Namun, kesederhanaan tersebut justru menjadi bagian penting dari inovasi. Bambu yang telah lama dikenal masyarakat digunakan sebagai media tempat kerang hijau menempel, sementara ban karet bekas dicoba kembali sebagai media budidaya alternatif.

Ban karet bekas untuk budidaya kerang hijau

Kedua metode ini kemudian diamati bersama untuk melihat bagaimana kerang hijau tumbuh, bagaimana media bertahan di perairan, serta bagaimana kondisi lingkungan mempengaruhi hasil budidaya.

Pada bulan keempat, hasil pengamatan mulai memberikan gambaran yang menarik. Hampir seluruh tiang bambu telah dipenuhi kerang hijau dengan ukuran yang relatif seragam. Meskipun beberapa bagian mulai ditumbuhi teritip (barnacle) dan organisme penempel lainnya, pertumbuhan kerang tetap berlangsung dengan baik. Dari enam titik sampling, rata-rata ditemukan sekitar 32 individu kerang hijau pada setiap tiang bambu.

Memantau hasil budidaya kerang hijau di Desa Sumber Nadi, Lampung Selatan. 

Menurut Bapak I Wayan Widana, Ketua Kelompok Budidaya Kerang Hijau Desa Sumbernadi, pertumbuhan kerang masih berlangsung optimal meskipun media mulai dipenuhi organisme lain.

Hal yang tidak kalah menarik terlihat pada media ban karet bekas. Hasil pengamatan menunjukkan rata-rata sekitar 52 individu kerang hijau pada setiap media, dengan ukuran yang relatif seragam dan tingkat kelangsungan hidup yang masih tinggi. Bagi masyarakat, temuan ini membuka kemungkinan baru: bahwa material sederhana yang sebelumnya tidak lagi digunakan dapat memiliki fungsi lain ketika dipadukan dengan pengetahuan dan kebutuhan lokal.

Namun, angka tersebut belum menjadi akhir dari perbandingan. Kedua metode masih terus diamati untuk melihat bagaimana performanya hingga masa panen dan apakah metode tersebut dapat menjadi alternatif yang benar-benar layak diterapkan oleh pembudidaya.

Sementara masyarakat Sumbernadi bereksperimen dengan bambu dan ban bekas, masyarakat di Desa Sidodadi, Pesawaran, mengembangkan pendekatan yang berbeda melalui sistem Long Line atau Rakit Apung.

Rakit apung yang digunakan masyarkat Desa sidodadi, Pesawaran untuk budidaya kerang hijau

Rakit bambu berukuran 6 × 6 meter digunakan sebagai struktur utama, dengan sekitar 600 tali kolektor yang digantung secara vertikal sebagai media tempat kerang hijau menempel.

Di sini, masyarakat menemukan bahwa kondisi lingkungan menjadi bagian penting dalam menentukan keberhasilan budidaya.

Menurut Imam Santosa, anggota kelompok pemantau dan perlindungan kerang hijau Desa Sidodadi, tingkat kelangsungan hidup kerang hijau masih tergolong baik meskipun pertumbuhannya belum sepenuhnya seragam. Ia melihat kondisi tersebut berkaitan dengan karakteristik perairan Sidodadi yang relatif jernih dan belum banyak tercemar.

Namun, pengamatan juga menunjukkan bahwa tidak semua bagian rakit memberikan kondisi yang sama. Beberapa titik memiliki pertumbuhan kerang yang lebih baik, sementara bagian belakang rakit lebih banyak dipenuhi serasah, teritip, dan organisme penempel lainnya. Secara keseluruhan, rata-rata sekitar 15 individu kerang hijau ditemukan pada setiap tali kolektor.

Beberapa hasil  kerang hijau di tali kolektor.

Bagi masyarakat, kondisi tersebut menjadi pembelajaran bahwa desain budidaya tidak dapat dipisahkan dari karakteristik perairan.

Panjang tali dan kedalaman penempatan, misalnya, perlu diperhatikan. Area dengan kedalaman sekitar 1–2 meter dinilai lebih optimal untuk penempelan kerang, sementara bagian tali yang terlalu dalam cenderung lebih banyak menerima serasah dan organisme lainnya.

Apa yang terjadi di Sumbernadi dan Sidodadi menunjukkan bahwa inovasi dalam budidaya tidak selalu harus berbentuk teknologi yang kompleks. Terkadang, inovasi dimulai dari mengamati lingkungan, mencoba sesuatu yang sederhana, kemudian belajar dari hasilnya.

Bersama masyarakat Desa Sidodadi di tempat budidaya.

Bambu, ban karet bekas, dan rakit apung menjadi media untuk menguji kemungkinan yang berbeda. Sementara itu, proses monitoring membantu masyarakat memahami bahwa hasil budidaya tidak hanya ditentukan oleh media yang digunakan, tetapi juga oleh arus, kedalaman, kondisi perairan, keberadaan organisme penempel, dan karakteristik lokasi.

Dalam proses ini, masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai penerima teknologi. Mereka menjadi bagian dari proses menguji, mengamati, dan menilai apakah sebuah metode benar-benar sesuai dengan kondisi perairan mereka. Pilot Smart Aquaculture ini pada akhirnya bukan hanya tentang mencari media mana yang menghasilkan kerang paling banyak, namun juga membangun kemampuan masyarakat untuk memahami hubungan antara budidaya, kondisi ekosistem, dan sumber penghidupan.

Samples kerang hijau

Hasil awal menunjukkan bahwa metode tancap bambu di Sumbernadi memiliki pertumbuhan yang relatif seragam, sementara media ban karet bekas menunjukkan potensi yang menjanjikan. Di Sidodadi, metode Long Line juga masih menunjukkan tingkat kelangsungan hidup yang baik meskipun terdapat variasi pertumbuhan antar lokasi.

Ketiga pendekatan tersebut masih akan dilanjutkan hingga masa panen. Dari proses tersebut, masyarakat dan tim pendamping dapat terus belajar mengenai metode, kondisi lingkungan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan budidaya. 

Teritip adalah hewan kecil dari kelompok krustasea (udang-udangan) yang sering menempel kuat pada cangkang kerang hijau.

Pembelajaran ini kemudian menjadi bagian dari upaya Mitra Bentala untuk mengembangkan model Smart Aquaculture yang lebih sesuai dengan kondisi local, yaitu model yang tidak hanya mengejar produktivitas, tetapi juga mempertimbangkan daya dukung ekosistem dan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi.

Karena pada akhirnya, membangun ekonomi pesisir yang tangguh bukan hanya tentang menemukan cara untuk menghasilkan lebih banyak.

Ini tentang menemukan cara yang tepat untuk tumbuh bersama ekosistem yang menjadi tempat masyarakat bergantung.

Scenery di sore hari Desa Sidodadi, Pesawaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *