MitraBentala.or.id – Mitra Bentala lakukan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Early Warning System (EWS) atau Sistem Peringatan Dini di Desa Maja, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, pada Rabu (24/6/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, antara lain Pemerintah Desa Maja, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Desa Tangguh Bencana (Destana), Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), PT RISE, Universitas Indonesia Mandiri (UIM) Lampung, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan.

FGD ini dilaksanakan sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana melalui pengembangan sistem peringatan dini yang efektif, partisipatif, dan berkelanjutan. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan Ekowisata Pantai Maja berbasis Pengurangan Risiko Bencana (PRB).

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Lampung Selatan, Ibu Nurmasuri, menyampaikan harapannya terhadap pengembangan EWS di Desa Maja.

“Kami dari BPBD Lampung Selatan berharap besar kepada Mitra Bentala dalam pengembangan Early Warning System ini. Sistem peringatan dini sangat penting, terutama bagi Desa Maja yang berada dekat dengan wilayah pesisir dan kawasan Gunung Rajabasa. Semoga ke depan tingkat risiko kebencanaan dapat diminimalisir melalui upaya-upaya yang dilakukan bersama,” ujarnya.

Sistem peringatan dini yang efektif tidak hanya berfokus pada pemasangan alat atau sirine semata, tetapi mencakup berbagai komponen penting, seperti pemahaman risiko bencana, pemantauan dan deteksi ancaman, penyebarluasan informasi dan komunikasi peringatan, serta kemampuan masyarakat untuk merespons peringatan secara cepat dan tepat. Oleh karena itu, pengembangan EWS memerlukan keterlibatan berbagai pihak agar sistem yang dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal.

Akademisi Universitas Indonesia Mandiri Lampung, Bapak Ence Sopyan, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam proses pengembangan sistem peringatan dini.

“Melalui kegiatan ini, kita menerapkan pendekatan collaborative governance atau tata kelola kolaboratif dengan model pentaheliks. Pendekatan ini memungkinkan berbagai pihak memberikan perspektif dan kontribusi sesuai kapasitasnya masing-masing dalam menyelesaikan permasalahan kebencanaan,” ungkapnya.

Pengembangan EWS di Desa Maja juga menjadi semakin relevan seiring dengan upaya pengembangan Ekowisata Pantai Maja berbasis PRB. Kehadiran wisatawan di kawasan pantai berpotensi meningkatkan jumlah orang yang terdampak apabila terjadi bencana. Oleh karena itu, sistem yang dikembangkan nantinya diharapkan mampu menjangkau masyarakat setempat maupun wisatawan yang berkunjung ke kawasan tersebut, melalui jalur komunikasi yang jelas, prosedur operasional yang terstandar, serta pembagian peran yang tegas antar pemangku kepentingan.

Saat ini berbagai unsur di Desa Maja, mulai dari Pemerintah Desa, Destana, FPRB, Pokdarwis, kelompok masyarakat, hingga lembaga pendukung lainnya, telah menunjukkan komitmen kuat dalam mewujudkan desa yang tangguh bencana. Namun demikian, masih diperlukan identifikasi lebih lanjut terhadap kondisi sistem peringatan dini yang telah tersedia, kebutuhan pengembangannya, potensi dukungan teknologi, mekanisme penyebaran informasi, serta peningkatan kapasitas masyarakat agar EWS dapat berfungsi secara optimal saat kondisi darurat.

Perwakilan PT RISE, Bapak Adithya Winatra, menyampaikan bahwa hasil FGD ini menjadi dasar penting dalam menentukan arah pengembangan sistem peringatan dini di Desa Maja.

“Setelah FGD ini, Desa Maja bersama Mitra Bentala dapat menentukan lokasi pemasangan dan jenis EWS yang paling sesuai dengan kebutuhan. Pemilihan teknologi yang tepat akan sangat berpengaruh terhadap efektivitas sistem yang dibangun. Pada kesempatan ini kami juga memperagakan perangkat EWS yang mampu menjangkau radius suara hingga 300 meter. Meskipun waktu diskusi terbatas, FGD berlangsung sangat dinamis karena seluruh unsur yang hadir, mulai dari Destana, FPRB, Pemerintah Desa, Pokdarwis, BPBD, hingga akademisi, memberikan masukan dan harapan yang konstruktif,” jelasnya.

Melalui FGD ini, para peserta bersama-sama mengidentifikasi kondisi dan kapasitas sistem peringatan dini yang telah ada, mengkaji kebutuhan pengembangannya berdasarkan potensi ancaman bencana, menghimpun masukan terkait mekanisme penyebaran informasi peringatan dini, serta merumuskan rekomendasi pengembangan EWS yang efektif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Kegiatan yang dilakukan oleh Mitra Bentala ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun sistem peringatan dini yang mampu melindungi masyarakat dan wisatawan di Desa Maja. Selain itu, FGD ini juga diharapkan dapat memperkuat koordinasi antar lembaga dan pemangku kepentingan dalam mendukung kesiapsiagaan serta keselamatan masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *