MitraBentala.or.id– Di balik berkembangnya sebuah usaha mikro, terdapat satu fondasi yang sering kali luput dari perhatian: kemampuan mengelola keuangan dengan baik. Tidak sedikit pelaku usaha yang mampu menghasilkan produk berkualitas dan memiliki pasar yang menjanjikan, namun menghadapi tantangan ketika harus mengatur arus kas, memisahkan keuangan pribadi dan usaha, hingga merencanakan pengembangan bisnis secara berkelanjutan.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Yayasan Pendidikan Konservasi Alam Indonesia (YAPEKA) sebagai Mitra EDF Indonesia bekerja sama dengan Mitra Bentala menyelenggarakan Pelatihan Literasi Keuangan bagi Usaha Mikro melalui Simpan Pinjam dan Alternatif Usaha Ekonomi Berkelanjutan pada Kamis–Sabtu, 11–13 Juni 2026 di Hotel Golden Tulip Springhill Lampung.

Kegiatan ini menghadirkan perwakilan kelompok masyarakat dari tiga desa dampingan, yakni kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas), Kelompok Usaha Bersama (KUB), dan Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (Poklahsar) dari Desa Kuala Teladas dan Desa Sungai Burung, Kabupaten Tulang Bawang, serta Desa Cabang, Kabupaten Lampung Tengah.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas ekonomi masyarakat pesisir dan pedesaan melalui peningkatan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan usaha yang sehat. Literasi keuangan dinilai menjadi keterampilan penting bagi pelaku usaha mikro agar mampu memisahkan keuangan pribadi dan bisnis, mengelola pendapatan dan pengeluaran secara teratur, serta memanfaatkan fasilitas simpan pinjam secara produktif dan bertanggung jawab.

Kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test untuk mengukur tingkat pemahaman peserta terkait pengelolaan keuangan usaha. Hasil awal ini menjadi dasar bagi fasilitator untuk melihat kebutuhan pembelajaran peserta selama pelatihan berlangsung.

Selama dua hari, peserta mendapatkan berbagai materi yang disusun secara bertahap, dimulai dari pemahaman mendasar mengenai filosofi uang, pengertian dan tujuan literasi keuangan, hingga pengenalan berbagai instrumen pencatatan keuangan yang dapat diterapkan dalam usaha sehari-hari. Materi yang disampaikan meliputi penyusunan jurnal umum, buku besar, laporan laba-rugi, neraca, serta arus kas sebagai alat untuk memantau kesehatan usaha.

“Uang diibaratkan sebagai Din dan Nar yang berarti agama dan neraka, berarti bahwa uang ini akan bergantung dengan bagaimana kita memanfaatkannya. Akan ke arah baik atau keburukan. Untuk mengarah ke hal yang baik, maka perlu dilakukan pemahaman dan pengelolaan yang baik, termasuk dalam pengambilan keputusan” tegas Pak Nano sebagai fasilitator pelatihan dari Yapeka.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Tidak hanya menerima materi secara teoritis, peserta juga diajak untuk mempraktikkan langsung penyusunan laporan keuangan sederhana melalui kerja kelompok. Menariknya, kelompok-kelompok kerja dibentuk dengan menggabungkan peserta dari desa yang berbeda. Metode ini tidak hanya bertujuan untuk memperdalam pemahaman materi, tetapi juga membuka ruang bagi peserta untuk saling mengenal, berbagi pengalaman usaha, dan membangun jejaring kerja sama lintas desa.

“Di awal pelatihan dimulai, saya kesulitan dalam memahami materi yang ada. Namun, setelah praktik langsung dengan kelompok dari desa lain, membuat saya jadi lebih mengerti dan bisa mempraktikannya langsung pada sesi praktik ini” ungkap Ibu Fitri dari Poklahsar Desa Cabang.

Di setiap kelompok, peserta mendiskusikan berbagai studi kasus yang dekat dengan aktivitas usaha mereka sehari-hari. Beragam pengalaman muncul dalam diskusi, mulai dari tantangan mencatat transaksi usaha secara konsisten, kesulitan memisahkan modal usaha dengan kebutuhan rumah tangga, hingga strategi mengembangkan usaha agar dapat bertahan dalam berbagai kondisi ekonomi. Hasil diskusi kemudian dipresentasikan di hadapan peserta lain untuk mendapatkan masukan dan pembelajaran bersama.

Melalui pendekatan partisipatif tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga kesempatan untuk belajar dari pengalaman sesama pelaku usaha. Pertukaran pengalaman ini menjadi salah satu nilai penting dalam pelatihan karena memperlihatkan bahwa tantangan yang dihadapi pelaku usaha mikro sering kali memiliki kesamaan, sekaligus membuka peluang untuk menemukan solusi secara kolektif.

Pada hari terakhir, peserta mengikuti post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Pelatihan kemudian ditutup dengan pembagian modul pembelajaran dan perlengkapan pendukung, berupa buku kas, pena, dan tas yang diharapkan dapat membantu peserta menerapkan pencatatan keuangan secara rutin dalam kegiatan usaha mereka.

Melalui pelatihan ini, YAPEKA, Mitra Bentala, dan EDF sebagai anggota TPPRB berharap para pelaku usaha mikro dapat semakin percaya diri dalam mengelola keuangan usahanya, memanfaatkan layanan simpan pinjam secara bijak, serta mengembangkan alternatif usaha ekonomi yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berkelanjutan. Dengan fondasi literasi keuangan yang kuat, usaha-usaha masyarakat diharapkan mampu tumbuh lebih tangguh, berdaya saing, dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi keluarga maupun komunitas mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *