MitraBentala.or.id- Menanam bibit mangrove mungkin terlihat sederhana: memilih lokasi, menanam bibit, lalu membiarkannya tumbuh. Namun, bagi masyarakat yang hidup di wilayah pesisir, keberhasilan pemulihan mangrove tidak sesederhana itu.
Arus yang kuat, substrat berlumpur, gelombang, pasang surut, hingga kondisi lingkungan di sekitar kawasan sangat menentukan apakah bibit yang ditanam mampu bertahan. Artinya, memulihkan mangrove bukan hanya tentang berapa banyak bibit yang ditanam, tetapi juga tentang di mana bibit ditanam dan bagaimana membantu bibit tersebut bertahan.

Pembelajaran tersebut menjadi bagian dari pengalaman masyarakat di Desa Sidodadi, Pesawaran, dan Desa Sumbernadi, Lampung Selatan, melalui kegiatan penanaman mangrove yang dilaksanakan pada Agustus 2026 dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026. Di kedua desa, ditargetkan penanaman sebanyak 4.000 bibit mangrove sebagai bagian dari upaya masyarakat untuk melindungi dan memulihkan ekosistem mangrove di wilayah mereka. Menariknya, meskipun memiliki tujuan yang sama, masyarakat di kedua desa menggunakan teknik penanaman yang berbeda.
Di Desa Sidodadi, masyarakat menggunakan bronjong sebagai bagian dari teknik penanaman mangrove. Struktur bronjong digunakan untuk membantu memberikan perlindungan dan dukungan fisik pada area penanaman, terutama pada lokasi yang menghadapi dinamika pesisir tertentu. Dengan demikian, bibit tidak hanya ditanam begitu saja, tetapi juga ditempatkan dalam kondisi yang diupayakan lebih mendukung proses pertumbuhannya.

Mangrove di dalam bronjong
Sementara itu, di Desa Sumbernadi, masyarakat menggunakan waring sebagai bagian dari upaya mendukung penanaman mangrove. Penggunaan waring menjadi salah satu cara masyarakat menyesuaikan teknik penanaman dengan kondisi lokasi. Struktur tersebut dapat membantu memberikan perlindungan pada bibit yang baru ditanam dari gangguan fisik di sekitarnya selama proses awal pertumbuhan. Perbedaan teknik di kedua desa membawa satu pembelajaran penting, bahwa Pemulihan mangrove tidak memiliki satu formula yang dapat diterapkan di semua tempat.

Penanaman Mangrove menggunakan waring.
Mangrove secara alami telah beradaptasi dengan lingkungan pesisir yang dinamis. Namun, bibit yang baru ditanam berada pada kondisi yang lebih rentan, terutama pada tahap awal pertumbuhan. Teknik yang sesuai di satu lokasi belum tentu memberikan hasil yang sama di lokasi lainnya. Kondisi substrat, pergerakan air, pasang surut, paparan gelombang, serta keberadaan vegetasi di sekitar kawasan perlu dipertimbangkan ketika menentukan pendekatan pemulihan.
Karena itu, peran masyarakat dalam kegiatan ini tidak berhenti pada menanam bibit. Masyarakat juga terlibat dalam mengamati kondisi pesisir, memahami karakteristik lokasi, dan menerapkan teknik yang sesuai dengan kondisi yang mereka temui.

Edukasi dan persiapan sebelum melakukan penanaman mangrove oleh Kelompok Peduli Mangrove Sidodadi.
Dalam konteks tersebut, penggunaan bronjong di Sidodadi dan waring di Sumbernadi bukan sekadar pilihan material. Keduanya menjadi bagian dari upaya masyarakat untuk menyesuaikan praktik pemulihan mangrove dengan kondisi lokal.
Kegiatan penanaman di kedua desa merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat peran kelompok masyarakat dalam melindungi dan memulihkan ekosistem mangrove di wilayah desa. Sebab, pemulihan mangrove tidak berakhir ketika bibit selesai ditanam. Tantangan yang lebih panjang justru dimulai setelahnya, seperti memastikan bibit dapat bertahan, memantau perkembangannya, mengidentifikasi area yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, serta menjaga kawasan dari berbagai gangguan.

Penanaman mangrove bersama kelompok perempuan Desa Sumber Nadi.
Di sinilah keberlanjutan peran masyarakat menjadi penting. Ketika masyarakat terlibat dalam menentukan di mana dan bagaimana mangrove dipulihkan, kegiatan penanaman tidak lagi menjadi aktivitas satu hari. Penanaman menjadi bagian dari proses yang lebih panjang untuk belajar, memantau, melindungi, dan merawat ekosistem yang berada di sekitar mereka.
Dengan demikian, target 4.000 bibit mangrove di Sidodadi dan Sumbernadi bukan hanya tentang mencapai jumlah penanaman. Bibit-bibit tersebut menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas dan keberlanjutan peran masyarakat dalam menjaga ekosistem pesisir.

Menjelaskan tentang jenis Mangrove ke peserta penanaman mangrove.
Pengalaman masyarakat di Sidodadi dan Sumbernadi mengingatkan kita bahwa pemulihan mangrove tidak cukup hanya dengan bertanya seberapa banyak pohon yang sudah kita tanam, kita juga perlu bertanya “Apakah kita sudah memahami tempat di mana pohon-pohon tersebut ditanam?”
Dan mungkin pertanyaan yang paling penting ‘siapa yang akan terus merawatnya setelah kegiatan penanaman selesai’. Dengan memadukan pengetahuan lokal, teknik pemulihan yang sesuai, dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan, penanaman mangrove dapat berkembang dari sekadar kegiatan penanaman menjadi proses pengelolaan dan pemulihan ekosistem yang berkelanjutan.

Melalui program Lampung Coastal Resilience Innovation Sustainability Program (L-CRISP) dan dukungan Coast Facility Indonesia, masyarakat di Sidodadi dan Sumbernadi terus memperkuat perannya dalam melindungi dan memulihkan ekosistem mangrove yang menjadi bagian dari kekayaan alam, sumber penghidupan, dan ketahanan pesisir mereka.
Karena pemulihan yang berhasil bukan hanya tentang menanam kembali pohon. Tetapi tentang membangun pengetahuan, kapasitas, dan komitmen masyarakat agar pohon-pohon tersebut dapat tumbuh menjadi bagian dari pesisir yang hidup dan terlindungi.

