MitraBentala.or.id– Mitra Bentala melalui Lampung Coastal Resilience and Innovative Sustainability Project (L-CRISP) dengan dukungan Coast Facility Indonesia terus mendorong rehabilitasi ekosistem pesisir melalui peningkatan kapasitas persemaian mangrove di Desa Sumbernadi, Kabupaten Lampung Selatan, dan Desa Sidodadi, Kabupaten Pesawaran. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya membangun masyarakat pesisir yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim melalui pendekatan berbasis ekosistem dan partisipasi aktif masyarakat.

Wilayah pesisir Lampung menghadapi berbagai tantangan akibat perubahan iklim, mulai dari abrasi pantai, kenaikan muka air laut, hingga degradasi ekosistem mangrove. Berdasarkan Dokumen PBI Bappenas, kawasan pesisir Provinsi Lampung berada pada kategori Coastal Vulnerability Index (CVI) Kelas 4 (Tinggi), menjadikannya termasuk dalam wilayah Status Super Prioritas dan Top Prioritas untuk sektor kelautan. Di sisi lain, luas tutupan mangrove di wilayah ini terus mengalami penurunan sekitar 0,7% setiap tahunnya, sehingga diperlukan langkah nyata untuk memulihkan fungsi ekologis pesisir sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.

Sebagai langkah awal rehabilitasi mangrove, Mitra Bentala bersama masyarakat mengembangkan dan meningkatkan kapasitas persemaian mangrove di kedua desa. Persemaian menjadi fondasi penting dalam memastikan ketersediaan bibit yang berkualitas sebelum memasuki tahap rehabilitasi melalui penanaman di kawasan pesisir.

Program ini mengedepankan community-based approach, di mana masyarakat berperan sebagai aktor utama dalam seluruh tahapan kegiatan. Mulai dari proses perencanaan, penyusunan anggaran, pembangunan fasilitas persemaian, hingga pembibitan dan perawatan bibit dilakukan secara partisipatif bersama masyarakat. Pendekatan ini tidak hanya menghasilkan bibit mangrove, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat untuk mengelola dan menjaga ekosistem pesisir secara mandiri dalam jangka panjang.

Pelaksanaan kegiatan turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya pemerintah desa dan kelompok pelestari mangrove di masing-masing lokasi. Dukungan pemerintah desa menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan keberlanjutan program.

Lurah Desa Sidodadi, I Ketut Sinda Atmita, menyampaikan komitmennya untuk mendukung penuh keberlangsungan kegiatan kelompok pelestari mangrove. “Seluruh kegiatan kelompok mangrove akan kami dukung, termasuk penyediaan area persemaian, sistem penjagaan, hingga kebutuhan lain yang mendukung keberlanjutan kegiatan ini,” ujarnya.

Komitmen tersebut diperkuat dengan tingginya partisipasi masyarakat dalam menentukan lokasi dan pengelolaan persemaian. Salah satu anggota kelompok pelestari mangrove, Pak Co’tang, menjelaskan bahwa keterbatasan lahan untuk perluasan mangrove di Desa Sidodadi tidak mengurangi semangat masyarakat untuk terus berkontribusi. “Walaupun area perluasan mangrove terbatas, masyarakat masih memiliki lahan kosong di sekitar rumah yang dapat dimanfaatkan. Salah satunya di samping rumah saya yang lokasinya cukup strategis untuk memudahkan perawatan bibit mangrove,” tuturnya.

Hal serupa disampaikan oleh Komang Ayu Deyani, anggota kelompok pelestari mangrove, yang menjelaskan bahwa pemilihan lokasi persemaian telah mempertimbangkan aksesibilitas sekaligus keberlanjutan perawatan bibit. “Lokasi nursery memang membutuhkan akses yang sedikit lebih jauh karena harus melalui jalur laut. Namun, bagi kami hal tersebut bukan menjadi kendala. Sebagian besar anggota kelompok cukup sering beraktivitas di sekitar lokasi sehingga perawatan bibit tetap dapat dilakukan secara rutin. Kami telah menyepakati jadwal kontrol bersama setiap dua minggu sekali, sementara anggota kelompok lainnya yang lebih muda akan melakukan perawatan setiap tiga hari sekali,” jelasnya.

Selain mengedepankan partisipasi masyarakat, implementasi program juga memperhatikan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI). Perempuan berperan aktif dalam berbagai tahapan kegiatan, khususnya dalam penyiapan media tanam, penyemaian propagul, hingga perawatan bibit. Salah satunya adalah Kadek Yanti, Anggota Bidang Pemanfaatan dan Ekonomi Kreatif Kelompok Peduli Mangrove, yang secara aktif menangani proses penyemaian propagul. Sementara itu, Wayan Lari dari divisi yang sama berperan dalam melakukan perawatan rutin terhadap bibit mangrove untuk memastikan pertumbuhan dan kualitas bibit tetap terjaga hingga siap ditanam. 

Keterlibatan perempuan dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa aksi restorasi mangrove dan adaptasi terhadap perubahan iklim hanya dapat berjalan secara berkelanjutan ketika seluruh kelompok masyarakat memiliki kesempatan yang setara untuk berpartisipasi, berkontribusi, dan mengambil peran dalam menjaga ekosistem pesisir.

Hingga saat ini, peningkatan kapasitas persemaian telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Di Desa Sumbernadi, area persemaian yang semula dirancang untuk menampung sekitar 7.000 bibit berhasil dioptimalkan hingga mampu menampung 20.000 bibit mangrove dengan luas area 8m x 12m. Peningkatan kapasitas ini merupakan hasil dari inisiatif kelompok masyarakat yang mampu memaksimalkan pemanfaatan lahan, mengefisienkan penggunaan anggaran, sekaligus merancang persemaian agar dapat terus dikembangkan pada tahun-tahun mendatang.

Sementara itu, di Desa Sidodadi, area persemaian telah siap menampung sekitar 8.000 bibit mangrove, yang terdiri atas 5.500 bibit pada area perluasan baru dan 2.500 bibit pada area persemaian yang telah ada sebelumnya di luasan 2,5m x 8m. Penambahan kapasitas ini menjadi langkah penting dalam mendukung rencana rehabilitasi mangrove di wilayah pesisir setempat.

Seluruh bibit yang saat ini berada di persemaian selanjutnya akan memasuki tahap penanaman bersama pemerintah desa, kelompok pelestari mangrove, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Melalui kolaborasi ini, diharapkan rehabilitasi mangrove tidak hanya memulihkan fungsi ekologis pesisir sebagai pelindung alami dari abrasi dan dampak perubahan iklim, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir.

Dengan semangat kolaborasi dan kepemilikan bersama yang terus tumbuh di tingkat masyarakat, upaya mewujudkan pesisir Lampung yang tangguh, lestari, dan berkelanjutan diharapkan dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *